Selasa, 13 Agustus 2013

Cara Orgasme Berkali-kali!


Jangankan multiorgasme, bisa mencapai orgasme saja sudah untung, begitu mungkin kata sebagian perempuan. Maklum saja, banyak perempuan yang belum mampu mencapai orgasme lantaran belum cukup mengeksplorasi dirinya, atau karena pasangannya hanya mementingkan kepuasan dirinya.
Namun, ada jalan untuk mencapai klimaks, bahkan mendapatkannya berkali-kali. Kuncinya adalah, tidak malu untuk mengakui bahwa kita pun ingin merasakan sensasi kenikmatan tersebut, dan lebih berani mengeksplorasi diri. Berikut beberapa caranya:

Masturbasi. Inilah hal pertama yang bisa Anda lakukan untuk mencapai orgasme. Dengan masturbasi, Anda bisa mengenali bagaimana dan di mana sentuhan yang Anda inginkan, sekaligus yang tidak Anda sukai. Jika Anda memahami kebutuhan Anda sendiri, tentunya Anda bisa mengarahkan suami untuk menyentuh Anda di titik-titik paling sensitif dari tubuh Anda.

Latih otot vagina. Untuk melakukan sesi bercinta yang baik, Anda perlu memastikan bahwa otot dasar panggul dan otot-otot vagina Anda kuat. Otot vagina yang sehat akan mampu mengalirkan darah ke area yang memungkinkan Anda mengalami sensasi kenikmatan yang lebih dalam. Otot-otot ini berada di sekitar uretra, vagina, dan anus. Untuk melatihnya, lakukan senam Kegel di mana kita harus mengencangkan dan mengendurkan otot-otot tersebut, seperti saat Anda menahan pipis, dalam hitungan tertentu. Simak caranya di sini.

Tingkatkan foreplay. Foreplay boleh dibilang memegang peran paling penting untuk mencapai orgasme berulang kali. Kebanyakan perempuan hanya dapat mencapai klimaks melalui rangsangan klitoral secara langsung, jadi ajak pasangan untuk memusatkan perhatian ke area ini. Ia bisa menggunakan jemari ataupun lidahnya. Untuk melatih tubuh menerima sensasi puncak berkali-kali, biarkan pasangan menstimulasi Anda selama beberapa menit, kemudian berhenti sebentar, lalu mulai lagi. Dengan demikian, tubuh Anda akan tahu setelah satu stimulasi mencapai puncak, klimaks berikutnya akan datang lagi.

Alihkan ke area lain. Ketika mengalami orgasme melalui stimulasi klitoral, biasanya Anda akan merasakan sensasi geli yang luar biasa. Kalau sudah begini, Anda mungkin akan langsung menarik diri dari rangsangan si dia karena kulit Anda terlalu sensitif dengan sentuhannya. Namun, bila Anda masih menginginkan orgasme yang kedua (dan seterusnya), coba alihkan sentuhan pasangan ke area tubuh Anda yang lain yang tidak begitu sensitif. Di mana area tersebut? Anda yang lebih tahu. Entah itu payudara, bibir, atau leher Anda. Dengan menjaga saraf-saraf dan energi sensual Anda tetap tinggi, Anda tidak perlu mulai dari awal lagi untuk merasakan stimulasi dari si dia.

G-spot. Ketika klitoris sudah menjadi supersensitif melalui foreplay, Anda bisa beranjak ke area yang lebih dalam, yaitu G-spot. G-spot sebenarnya sangat sensitif, tetapi karena letaknya yang tersembunyi dan lebih sulit ditemukan, ia membutuhkan lebih banyak eksplorasi dan stimulasi. Jika Anda sulit menemukannya, coba lakukan posisi reverse cowgirl, atau posisi di mana Anda berada di atas tetapi membelakangi pasangan. Posisi ini secara alami akan menyentuh G-spot Anda, sekaligus menstimulasi klitoris melalui tubuhnya. Jangan lupa ajak si dia untuk terus menyentuh Anda.

Tak usah terburu-buru saat melakukan sesi ini, apalagi dengan memancang target untuk meraih multiorgasme. Lakukan dengan santai, perlahan, sambil menikmatinya semaksimal mungkin. Tak perlu mendesak si dia untuk membiarkan Anda orgasme lebih dulu. Hal ini hanya akan membuatnya tertekan dan lebih sulit untuk terangsang ataupun merangsang diri Anda.

Hanya 30 Persen Perempuan Alami Orgasme

Orgasme merupakan salah satu hal yang paling ingin dicapai saat bercinta. Namun, sayangnya masih banyak perempuan yang belum mampu mencapai orgasme saat bercinta dengan pasangannya, termasuk di Indonesia.

"Dari banyak penelitian, ditemukan fakta bahwa saat bercinta hanya para pria saja yang sering mencapai orgasme," tukas Firliana Purwanti, Program Officer Hak Asasi Manusia & Demokratisasi di Hivos Asia Tenggara sekaligus penulis The 'O' Project dalam acara Young Caring Profesional Awards di Jakarta beberapa waktu lalu.
Diakui Firliana melalui penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat, sekitar perempuan yang menikmati saat-saat bercinta dan mencapai orgasme hanya berkisar 30 persen saja, sedangkan pria yang bisa mencapai orgasme berkisar 70 persen. Angka ini termasuk cukup mengejutkan karena sebenarnya dalam bercinta seharusnya bisa dinikmati oleh kedua belah pihak sehingga mereka bisa sama-sama mencapai orgasme.

Firliana mencoba membuktikan penelitian di Amerika Serikat terhadap masyarakat Indonesia. Ia pun melakukan survei terhadap 16 orang perempuan di Indonesia tentang kepuasan orgasme saat bercinta, bertajuk The 'O' Project.

Survei ini dilakukan dengan metode wawancara terhadap perempuan di Aceh, Jakarta, Surabaya,Makassar dan beberapa kota lainnya dari berbagai status sosial dan pekerjaannya. Melibatkan perempuan lajang, sudah menikah, punya anak, lesbi, transgender, pekerja seks komersil, mengidap HIV, dan juga perempuan yang pernah disunat.
Dari penelitian yang dilakukannya, ia mengungkapkan bahwa para perempuan Indonesia juga mengalami kecenderungan yang sama. Artinya, hanya 30 persen perempuan Indonesia yang mengalami orgasme. Ia mengungkapkan bahwa rendahnya persentase perempuan yang bisa mencapai orgasme dalam kehidupan percintaannya ini banyak disebabkan oleh pola pikir yang salah.

"Banyak perempuan Indonesia yang mengalami the cinderella syndrome, yaitu sebuah kondisi dimana mereka diajarkan untuk selalu menunggu dan bersabar sembari menunggu seorang pangeran datang menjemput," tukasnya.
Tokoh Cindrella ini lekat dengan image perempuan baik-baik yang pada akhirnya akan menemukan seorang pangeran tampan sebagai pasangannya. Yang terjadi kemudian, perempuan cenderung pasrah dan pasif menunggu. Dianggap sebagai perempuan baik-baik, menjadi sebuah prestasi tersendiri. Lain halnya dengan pria yang tumbuh sebagai pribadi dengan wawasan lebih luas dan bebas mengekspresikan dirinya, karena pria cenderung dibolehkan untuk menjalani apa saja dalam hidupnya.
Menurut Firli, hal inilah yang menyebabkan adanya pola pikir yang salah dalam kehidupan seksual seorang perempuan. Adanya anggapan bahwa perempuan harus selalu pasif dan hanya laki-laki yang boleh aktif akan membuat perempuan kurang merasakan kepuasan dalam kehidupan seksualnya.

Sedikitnya jumlah perempuan yang menikmati orgasme juga disebabkan sikap perempuan yang selalu mendahulukan kesenangan seksual pasangan daripada dirinya sendiri. Kesulitan untuk mengekspresikan keinginan dan kebutuhan seksualitasnya juga menghambat perempuan Indonesia untuk menikmati aktivitas seksual bersama pasangan sehingga ia lebih sulit orgasme dibandingkan pria.

Untuk Orgasme, Ukuran Mr P Masih Dianggap Penting


Berbeda dengan pria, wanita umumnya lebih sulit mencapai orgasme. Beberapa wanita baru bisa merasakan orgasme jika mendapatkan perangsangan yang cukup dari penis pasangannya.

Meski ukuran penis yang besar bukan jaminan seorang wanita lebih mudah mencapai puncak kenikmatan, sebagian wanita merasa mereka lebih mudah mencapai orgasme vagina jika Mr P pasangannya cukup besar.

Seperti diketahui, terdapat dua jenis orgasme pada wanita, yaitu orgasme klitoral dan vaginal. Orgasme klitoral dicapai melalui perangsangan pada organ klitoris, sementara orgasme vaginal didapat melalui rangsangan pada vagina. Beberapa ahli menyebut orgasme jenis ini sebagai orgasme G-spot.

Dalam sebuah penelitian diketahui 33 persen wanita, terutama yang lebih suka orgasme vaginal, mengatakan bahwa ukuran Mr P pasangan adalah hal yang penting. Akan tetapi, jangan berkecil hati jika ukuran "yunior" Anda tergolong imut karena sekitar 60 persen wanita tak peduli dengan ukuran tersebut. Biar kecil yang penting garang.

Barry Kamisaruk, peneliti respons seksual wanita dari Rutgers University, menyebutkan bahwa sebenarnya masih ada perdebatan di antara para ahli mengenai orgasme klitoris dan vaginal.

Menurut Kamisaruk, saraf-saraf yang membawa sinyal rangsangan di area klitoris dan vagina berbeda. "Itu berarti perangsangan di setiap organ tersebut akan mengaktifkan area otak yang juga berbeda," katanya.

Pendapat lain mengatakan bahwa stimulasi pada vagina sebenarnya mengaktifkan bagian yang lebih dalam di area klitoris. Jadi, kedua jenis orgasme itu pada dasarnya sama.

Kaum wanita sendiri mengatakan bahwa mereka merasakan sensasi yang berbeda dari orgasme klitoris atau vagina. Namun, mengenai mana yang lebih disukai, itu kembali pada pilihan tiap individu.

Yang pasti dibutuhkan adalah waktu dan kesabaran untuk mengetahui area mana yang paling mudah dirangsang. Terlebih lagi, bagi sebagian wanita, orgasme adalah sebuah penantian yang berharga.

Demikian pula halnya untuk mencapai orgasme ganda, sebagian mengatakan tidak diperlukan ukuran penis yang besar untuk membantu wanita mencapainya. Yang utama adalah pria harus tetap memberikan perangsangan terus-menerus hingga sejumlah orgasme yang diinginkan tercapai.

Waktu yang Tepat untuk Bercinta

Selain posisi dan teknik dalam bercinta, ternyata pemilihan waktu juga berperan besar dalam tercapainya puncak kenikmatan alias orgasme. Jadi, kapan waktu yang paling tepat?

Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam The Journal of Sexual Medicine disebutkan bahwa sekitar 14 hari setelah siklus menstruasi adalah waktu yang paling tepat. Wanita yang bercinta pada periode tersebut cenderung lebih mudah mencapai orgasme.

Pada periode 14 hari pasca-menstruasi, klitoris akan membesar sekitar 20 persen dan lebih peka terhadap rangsangan. Dengan demikian, seorang wanita akan menjadi lebih mudah bergairah.

Sekelompok peneliti dari Italia yang melakukan penelitian itu melibatkan 24 wanita berusia 18-35 tahun. Menggunakan peralatan ultrasound, klitoris para responden diukur, demikian pula pembuluh darah utama yang mengalirkan darah ke klitoris sehingga akan timbul gairah seksual.

Pengukuran lewat ultrasound tersebut dilakukan di awal, tengah, dan akhir siklus menstruasi. Hasilnya, pada hari ke-14 siklus menstruasi, ukuran klitoris lebih besar sampai 20 persen. Selain itu, pembuluh darah juga cenderung membesar sehingga sirkulasi darah ke organ tersebut lebih lancar.

Hari ke-14 adalah sekitar masa ovulasi sehingga terjadi perubahan pada tubuh. Perubahan itu juga dipengaruhi oleh hormon estrogen. Tak heran jika di masa subur tersebut, kebanyakan wanita menjadi lebih bersemangat berhubungan seks dibanding hari-hari lainnya.

Reaksi Kimia di Otak Saat Orgasme

Banyak pasangan yang menganggap hubungan seksual belum sempurna jika mereka tidak bisa mencapai orgasme. Tak heran karena orgasme merupakan puncak kenikmatan seksual.

Ketika orgasme datang, hampir seluruh bagian tubuh ikut bereaksi, termasuk bagian otak. Dalam sebuah penelitian menggunakan pemindaian otak (MRI) terhadap wanita yang sedang melakukan masturbasi, diketahui bahwa ketika "ledakan" orgasme datang, terjadi reaksi mirip nyala kembang api pada tahun baru di otak.

Mari kita simak apa saja respons kimia di otak selama kita berhubungan seksual.

- Sentuhan pertama
Sensori genital di bagian otak akan terstimulasi. Ternyata, klitoris, vagina, dan area serviks akan menstimulasi bagian otak yang berbeda. Ini berarti, setiap bagian tersebut bisa menghasilkan orgasme sendiri-sendiri. Karenanya, merangsang bagian-bagian genital tersebut akan memicu orgasme yang lebih intens.

- Rangsangan berlanjut
Rangsangan yang terus berlanjut akan mengaktifkan bagian hippocampus, bagian otak yang membangkitkan memori. Selain itu, bagian otak amygdala, yang berkaitan dengan ekpresi emosi dan perasaan intens, ikut aktif.

- Hampir sampai
Pada awal bagian orgasme, otak kecil akan memicu sensasi fisik yang kuat pada panggul, bokong, dan perut. Sementara bagian otak yang mengatur perencanaan dan pikiran abstrak menghamburkan makin banyak fantasi seksual. Area otak tertentu juga akan menghasilkan zat antinyeri sehingga yang Anda rasakan hanya kesenangan.

- Puncak kesenangan
Hipotalamus akan menghasilkan oksitosin, memicu kontraksi uterin sehingga menyebabkan sensasi orgasme yang dahsyat. Otot sekujur tubuh juga akan berkontraksi selama orgasme. Pada momen ini oksitosin atau dikenal sebagai hormon cinta akan menimbulkan sebuah perasaan yang intim dan dalam dengan pasangan.

- Setelah orgasme
Setelah sensasi puncak tersebut, segala sesuatunya perlahan mulai menurun. Tekanan darah, denyut jantung, dan denyut napas perlahan kembali normal

Wanita Ini Mengalami "Orgasme Kaki"

Seorang wanita 55 tahun asal Belanda mengunjungi dokter lantaran sebuah keluhan aneh. Ia mengalami orgasme yang tidak diinginkan yang terjadi dimulai dari kakinya.

Sensasi orgasme yang terjadi di kaki kirinya terjadi dengan tiba-tiba, bukan dari hasrat atau pikiran seksual. Bahkan, sensasi tersebut dapat dirasakan sekitar lima hingga enam kali per hari. Sensasi dimulai dari kaki kemudian menjalar ke betis, paha, hingga vagina. Wanita itu pun merasakan sensasi orgasme yang sama seperti saat berhubungan seks.

Dokter yang menanganinya, dr Marcel D Waldinger mengatakan, orgasme ini sangat memalukan dan mencemaskan bagi wanita ini.

"Ini sangat buruk baginya," ujar ahli saraf dan profesor psikofarmakologi seksual di Utrecht University, Belanda.

Hasil pemindaian otak dengan magnetic resonance images (MRI) menunjukkan adanya ketidaknormalan pada otak dan kaki wanita tersebut. Sementara tes lainnya menunjukkan adanya perbedaan saraf antara kaki kanan dan kirinya. Rangsangan listrik di kaki kirinya dapat menimbulkan orgasme spontan.

Dokter kemudian mengobati wanita dengan suntikan bius pada saraf tulang belakang yang menerima informasi rangsang dari kaki. Hasilnya postif, orgasme tidak lagi terjadi sejauh ini hingga delapan bulan. Waldinger mengatakan, mungkin ia membutuhkan suntikan lagi jika mulai merasakan orgasme kaki kembali.

Menurut para peneliti, fenomena ini merupakan hasil dari kekacauan di otak. Mereka mengatakan, otak wanita itu tidak dapat membedakan lagi vagina dengan kaki sehingga rangsangan di kaki juga mampu membuatnya orgasme.

Faktanya, satu setengah tahun sebelum orgasme kaki terjadi, wanita itu sempat dirawat selama tiga minggu di intensive care unit (ICU) dalam keadaan koma akibat infeksi sepsis. Selepas koma, wanita itu mengalami sensasi terbakar di kaki kirinya yang kemungkinan diakibatkan oleh kerusakan saraf halus di kaki.

Yang menarik, saraf yang mengirimkan informasi rangsangan dari kaki memasuki saraf tulang belakang dalam kadar yang sama dengan saraf yang mengirimkan informasi rangsangan dari vagina.

Orgasme kaki merupakan fenomena yang sangat jarang terjadi. Sebelumnya, orgasme kaki ditemukan pada seorang pria dengan amputasi kaki.

"Ini bukanlah masalah psikologis, melainkan masalah saraf yang dapat dijelaskan dan diobati," pungkas Waldinger.

Wajah Tampan Lebih "Memuaskan" Wanita

Paras tampan pria ternyata tidak hanya mampu memikat wanita, tetapi juga lebih baik dalam "memuaskan" pasangannya. Sebuah studi menemukan bahwa perempuan cenderung lebih mudah mengalami orgasme dengan pasangan yang dinilai lebih maskulin dan dominan serta tentu saja berwajah tampan.

Studi tersebut juga mengungkap bahwa wanita yang memiliki pasangan tampan dan dominan lebih mungkin untuk mencapai orgasme bersamaan atau sesudah ejakulasi pria sehingga lebih mudah untuk hamil.

Sebelumnya, orgasme pada wanita dinilai tidak berguna secara biologis. Namun, peneliti asal Pennyslvania State University mengklaim bahwa orgasme wanita memiliki fungsi evolusi.

Studi sebelumnya menunjukkan, orgasme wanita dapat membantu menahan sperma setelah berhubungan seksual dan memperbaiki konsepsi. Menurut studi tersebut, orgasme wanita mungkin merupakan salah satu cara untuk menyeleksi gen terbaik dari sperma untuk membentuk keturunan.

Sementara studi baru yang dipublikasi dalam jurnal Evolution and Human Behaviour menyatakan, maskulinitas dan ketampanan pria dapat mengatur frekuensi dan timing orgasme dari pasangannya.

Para peneliti menyimpulkan, meski studi ini masih memerlukan kajian lebih lanjut, hasilnya mendukung hipotesis bahwa orgasme wanita merupakan mekanisme seleksi gen berkualitas tinggi untuk membentuk keturunan.

Studi ini melakukan analisis terhadap 110 pasangan. Mereka ditanyai tentang pengalaman orgasme mereka, apakah sebelum, setelah, atau bersamaan dengan pasangan mereka. Selain itu, para wanita diminta menilai ketampanan, maskulinitas, dan dominasi pasangannya. Sementara para pria diminta menilai ketampanan, maskulinitas, dan dominasi dirinya sendiri serta feminitas dari pasangannya.

Hasilnya menunjukkan, jika seorang pria dinilai tampan dan maskulin oleh pasangannya, kesempatan si wanita untuk mencapai orgasme bersamaan dan setelah pasangannya lebih besar sehingga kesempatan untuk hamil juga lebih besar.

Menurut para peneliti, peluang mendapatkan hamil semakin besar jika wanita mencapai orgasme dalam satu menit sebelum atau 45 menit sesudah ejakulasi pria.

Orgasme untuk Olahraga Otak

Mengisi teka-teki silang, bermain catur, atau sudoku selama ini diketahui sangat efektif untuk melatih otak agar tidak lekas pikun. Namun, penelitian terbaru mengungkap ada hal yang lebih efektif dari semua kegiatan tersebut, yakni mencapai orgasme.

Sensasi yang timbul saat orgasme akan meningkatkan seluruh aktivitas otak. Sebaliknya, jika kita bermain puzzle atau mengisi TTS, memang terjadi peningkatan aktivitas otak, tetapi hanya bagian kecil otak yang aktif.

"Saat orgasme, ada peningkatan aliran darah ke bagian otak. Hal ini menyebabkan nutrisi dan oksigen yang mengalir ke otak menjadi berlimpah," kata Profesor Barry Komisaruk, neuroscientist, yang melakukan penelitian ini.

Dalam penelitiannya, Komisaruk mengukur aliran darah menuju otak saat orgasme. Peneliti ini sudah lama memfokuskan penelitiannya pada mekanisme biologi dan aktivitas otak saat wanita mengalami rangsangan.

Sebelumnya, ia juga melakukan penelitian mengenai bagian otak mana saja yang aktif saat seorang wanita mencapai klimaks. Orgasme juga diklaim bisa menghalangi rasa sakit.

"Kita harus mengetahui bagaimana otak menghasilkan rasa senang saat orgasme. Mungkin saja hal ini bisa mengobati depresi, kegelisahan, adiksi, atau rasa sakit," ujar Komisaruk.

Dalam sebuah penelitian menggunakan pemindaian otak (MRI), diketahui saat orgasme datang, terjadi reaksi mirip ledakan kembang api. Hampir seluruh bagian tubuh berkontraksi, termasuk otak.

Orgasme Berulang

Orgasme merupakan sensasi yang dinanti tapi kerap sulit dicapai oleh banyak wanita. Namun seorang wanita mengaku, dirinya dapat merasakan 11 kali orgasme dalam satu hari dengan melakukan meditasi orgasmik atau metode "om".

Adalah aktris Karean Lorre yang mengakui tubuhnya lebih sensitif dan menghargai pria sehingga ia dapat merasakan orgasme berulang. Ia mendapatkan semua itu dengan melakukan meditasi orgasmik yang diajarkan oleh seorang praktisi meditasi Nicole Daedone.

Lorre percaya, orgasme pada dasarnya merupakan hasil dari hubungan antara dua orang secara hormonal, emosional, dan spiritual sehingga pada awal mencoba metode tersebut, Lorre memfokuskan untuk meraih hubungan yang lebih baik dengan pasangannya daripada mencapai orgasme.

Diketahui, satu dari sepuluh wanita di dunia tidak mampu merasakan orgasme, tetapi Lorre bukanlah termasuk golongan tersebut. Ia melakukan meditasi orgasmik untuk menjadi lebih sensitif dan lebih menghargai pria.

"Saya sudah melakukan meditasi selama 20 tahun untuk mendapatkan kedamaian, namun meditasi orgasmik dapat memberikan rasa yang lebih sensitif, dan meningkatkan apresiasi saya kepada pria," ujar aktris yang berperan dalam serial X-Files ini.

Meditasi orgasmik merupakan latihan yang dilakukan selama 15 menit oleh dua orang. Latihan ini memfokuskan perhatian pada teknik yang digunakan dan sensasi yang diciptakan guna membuat wanita orgasme.

Seorang murid kelas meditasi, Rachel, mengatakan, saat umur 25 tahun dia pernah didiagnosis tidak akan pernah merasakan orgasme. Namun hal itu tidak terbukti setelah dia mengikuti kelas tersebut.

"Saya merasa ada saat getaran listrik itu datang dan saya pikir itulah rasanya menjadi wanita yang sesungguhnya, nyaman dan aman bersama pasangan kita," ujarnya.

Dr Pooja Lakshmin, peneliti di Rutgers University yang mempelajari orgasme, mengatakan, prinsip dari meditasi orgasmik sebenarnya adalah mengaktifkan area tertentu pada otak yang sama saat terjadinya orgasme.

"Meskipun pemikiran orang tentang orgasme wanita masih terbatas dan mekanisme apa yang mereka rasakan saat mencapai klimaks masih belum diketahui," tuturnya.