Kamis, 21 November 2013

3 Gaya Bercinta yang Paling Diidam-idamkan Para Pria

Bercinta menjadi momen-momen yang menyenangkan bagi pasangan suami istri. Terutama bagi pria, kadang kala posisi serta gaya bercinta yang itu-itu saja bisa membuatnya bosan. Nah, sebenarnya pria juga mempunyai posisi bercinta yang ia idam-idamkan.

1. Penetrasi lebih dalam
Untuk melakukan hal ini, sebenarnya pria hanya perlu meyakinkan pasangannya. Meskipun kebanyakan pria ingin sekali melakukan penetrasi sangat dalam, tapi ia khawatir akan menyakiti pasangannya.

Sebenarnya ada cara yang tidak terlalu menyakitkan bagi wanita tapi bisa memberi penetrasi cukup dalam bagi pria. Tekuklah tubuh Anda di atas meja dan lebarkan kaki, kemudian biarkan si dia melakukan penetrasi dari belakang.

2. Penetrasi dari belakang
Tidak semua perempuan menikmati seks anal. Tapi itu tidak berarti Anda sebagai pasangan tak bisa memenuhi fantasi si dia. Cobalah posisi seperti doggy style di mana Anda berada pada posisi merangkak hingga si dia bisa melihat keseluruhan bagian tubuh belakang Anda.

Atau, Anda bisa mencoba menghadap dinding dan memintanya untuk melakukan penetrasi dari belakang. Ini adalah salah satu posisi 'paling nakal' yang tak akan pernah ditolak para pria.

3. Kaki di udara
Posisi bercinta lainnya yang paling diinginkan para kaum adam adalah ketika kaki Anda diregangkan dan berada di udara, sementara ia melakukan penetrasi dengan kekuatan penuh. Posisi ini bisa membuat si dia melihat ekspresi Anda saat mencapai klimaks secara keseluruhan dan itu bisa memberikan kepuasan ekstra baginya.

Seperti Apakah Penis yang Normal?

Beberapa pria, khususnya yang belum menikah, bertanya-tanya apakah penis yang dimilikinya termasuk dalam kategori normal atau tidak. Terkadang beberapa dari mereka tidak percaya diri dengan penisnya yang dirasa kebesaran atau kekecilan. Sebenarnya, seperti apakah penis yang normal?

Dari sisi medis, penis yang normal adalah penis yang sehat, yakni yang tidak terkena penyakit seperti misalnya kutil kelamin. Sebagaimana wajah manusia di mana tidak ada yang seragam, begitu pula halnya dengan penis, kondisinya berbeda-beda. Warnanya berbeda, ukurannya pun berbeda antara laki-laki yang satu dengan yang lain.

Karena berada di tempat yang tertutup, masing-masing pria tentu kesulitan untuk membandingkan penisnya dengan penis teman-temannya. Sehingga 'kenormalan' penis kerap mengacu pada film-film maupun gambar bermuatan pornografi yang dilihatnya. Sayangnya apa yang disajikan dalam foto dan gambar tersebut tidak mencerminkan dunia nyata.

Dikutip dari Body and Soul, tidak ada patokan angka tertentu untuk ukuran penis. Demikian pula dengan bentuk dan warnanya, karena tidak ada yang tampak sama. Bahkan terkadang ada nuansa warna pada batang dan kepala penis. Selain itu ujung penis dan uretra yang dimiliki masing-masing pria pun bervariasi.

Beberapa penis dapat memiliki pembuluh darah menonjol, sementara yang lain tidak sama sekali. Ada penis yang disunat dan yang tidak disunat, sehingga terkait hal ini, bentuk penis sudah pasti berbeda. Semua ini menunjukkan bahwa setiap penis berbeda.

Terkait panjang penis, menurut studi pada 1.661 orang yang dipublikasikan dalam Journal of Sexual Medicine pada 2013, rata-rata penis yang ereksi berukuran 14 cm. Akan tetapi, sangat jelas ada keberagaman, di mana ditemukan pula pria yang memiliki panjang ereksi antara 4 cm hingga 26 cm.

Menurut seksolog dr Andri Wanananda MS, penis tidak berlapiskan otot sebagaimana pangkal lengan atau paha yang bisa dilatih untuk dibesarkan di pusat kebugaran. Selain itu yang paling penting sebenarnya bukan besar atau kecilnya penis, melainkan keras dan tegangnya saat mengalami rangsangan seksual.

Apalagi panjang vagina rata-rata adalah 4 inchi dan saraf-saraf yang menimbulkan rasa menyenangkan terletak di sepertiga luar vagina. Ujung saraf terbanyak, yakni sebanyak 8.000, tidak berada di dalam vagina melainkan di klitoris. Selain itu beberapa perempuan melaporkan penis yang terlalu besar kadang menimbulkan rasa tidak nyaman, bahkan menimbulkan rasa sakit.

Selain ukuran, hal yang dikeluhkan beberapa pria adalah penisnya yang tidak lurus alias bengkok. Jika bengkoknya sangat kentara hingga menyerupai pisang atau gagang payung, biasanya dipicu oleh peyronie's disease. Hingga batas tertentu gangguan ini tidak berbahaya, tetapi kalau sudah ekstrem bisa memicu rasa nyeri yang sangat mengganggu.

Penyebab paling umum penis bengkok adalah bekas luka yang membentuk jaringan keras di salah satu sisi dan menghambat pertumbuhan di sisi tersebut. Operasi sering jadi pilihan untuk mengatasinya, namun belakangan bisa juga diatasi dengan menyuntikkan senyawa tertentu.

Gangguan Hasrat Seks Pria Dipengaruhi Hormon Produsen ASI

Kalau pria bermasalah di atas ranjang, biasanya itu karena stres atau rendahnya kadar testosterone dalam tubuhnya. Namun sebuah studi baru mengatakan masalah seksual pada pria bisa jadi karena tubuhnya kekurangan hormon produsen ASI. Kok bisa?

Fakta ini tentu mengejutkan karena selama ini yang diketahui banyak orang adalah hormon bernama prolaktin ini identik dengan wanita, karena berfungsi merangsang pertumbuhan payudara dan produksi ASI pada wanita. Akan tetapi dalam studi ini malah ditemukan bahwa hormon ini ternyata juga mempengaruhi fungsi seksual pria secara signifikan.

Hal ini dibuktikan peneliti dengan mengukur kadar testosterone dan prolaktin, kadar kolesterol dan gula darah serta indeks massa tubuh (BMI) 3.000 pria Eropa berusia 40-79 tahun. Partisipan juga diminta mengisi kuesioner tentang kondisi kesehatan, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol dan fungsi seksualnya.

Seperti dilansir NBC News, dari situ diketahui bahwa rendahnya kadar prolaktin ternyata ada hubungannya dengan sejumlah gejala gangguan kesehatan seksual, begitu juga dengan kesehatan psikologisnya. Bahkan pria yang kadar prolaktinnya berada di bawah rata-rata, meskipun masih dalam batasan normal, lebih cenderung melaporkan jika fungsi seksual makin lama makin memburuk, terutama berkaitan dengan kepuasan orgasme mereka.

Kata peneliti, pria-pria ini juga lebih banyak memperlihatkan gejala depresi ketimbang pria yang kadar prolaktinnya tak begitu rendah. Studi yang sama juga menemukan bahwa rendahnya prolaktin dapat dikaitkan dengan indeks massa tubuh (BMI) dan kadar gula yang tinggi serta rendahnya tingkat aktivitas fisik.

Yang tak banyak diketahui orang, ternyata prolaktin tak hanya dihasilkan oleh wanita, tapi juga para pria, kendati hingga kini fungsi hormon ini sendiri belum jelas. Lagipula peneliti mengaku tak tahu-menahu bagaimana prolaktin dapat meningkatkan fungsi seksual seorang pria.

Bisa jadi rendahnya kadar prolaktin menyebabkan perubahan kadar senyawa-senyawa kimia yang bertugas mengirim sinyal di dalam otak untuk mengatur perilaku seksual seseorang. Peneliti juga tak menutup kemungkinan kondisi kesehatan yang buruk berada di balik rendahnya kadar prolaktin dalam tubuh, termasuk rendahnya gairah seks.