Bercinta menjadi momen-momen yang menyenangkan bagi pasangan suami
istri. Terutama bagi pria, kadang kala posisi serta gaya bercinta yang
itu-itu saja bisa membuatnya bosan. Nah, sebenarnya pria juga mempunyai
posisi bercinta yang ia idam-idamkan.
1. Penetrasi lebih dalam
Untuk
melakukan hal ini, sebenarnya pria hanya perlu meyakinkan pasangannya.
Meskipun kebanyakan pria ingin sekali melakukan penetrasi sangat dalam,
tapi ia khawatir akan menyakiti pasangannya.
Sebenarnya ada cara
yang tidak terlalu menyakitkan bagi wanita tapi bisa memberi penetrasi
cukup dalam bagi pria. Tekuklah tubuh Anda di atas meja dan lebarkan
kaki, kemudian biarkan si dia melakukan penetrasi dari belakang.
2. Penetrasi dari belakang
Tidak
semua perempuan menikmati seks anal. Tapi itu tidak berarti Anda
sebagai pasangan tak bisa memenuhi fantasi si dia. Cobalah posisi
seperti doggy style di mana Anda berada pada posisi merangkak hingga si
dia bisa melihat keseluruhan bagian tubuh belakang Anda.
Atau,
Anda bisa mencoba menghadap dinding dan memintanya untuk melakukan
penetrasi dari belakang. Ini adalah salah satu posisi 'paling nakal'
yang tak akan pernah ditolak para pria.
3. Kaki di udara
Posisi
bercinta lainnya yang paling diinginkan para kaum adam adalah ketika
kaki Anda diregangkan dan berada di udara, sementara ia melakukan
penetrasi dengan kekuatan penuh. Posisi ini bisa membuat si dia melihat
ekspresi Anda saat mencapai klimaks secara keseluruhan dan itu bisa
memberikan kepuasan ekstra baginya.
Kamis, 21 November 2013
Seperti Apakah Penis yang Normal?
Beberapa pria, khususnya yang belum menikah, bertanya-tanya apakah
penis yang dimilikinya termasuk dalam kategori normal atau tidak.
Terkadang beberapa dari mereka tidak percaya diri dengan penisnya yang
dirasa kebesaran atau kekecilan. Sebenarnya, seperti apakah penis yang
normal?
Dari sisi medis, penis yang normal adalah penis yang sehat, yakni yang tidak terkena penyakit seperti misalnya kutil kelamin. Sebagaimana wajah manusia di mana tidak ada yang seragam, begitu pula halnya dengan penis, kondisinya berbeda-beda. Warnanya berbeda, ukurannya pun berbeda antara laki-laki yang satu dengan yang lain.
Karena berada di tempat yang tertutup, masing-masing pria tentu kesulitan untuk membandingkan penisnya dengan penis teman-temannya. Sehingga 'kenormalan' penis kerap mengacu pada film-film maupun gambar bermuatan pornografi yang dilihatnya. Sayangnya apa yang disajikan dalam foto dan gambar tersebut tidak mencerminkan dunia nyata.
Dikutip dari Body and Soul, tidak ada patokan angka tertentu untuk ukuran penis. Demikian pula dengan bentuk dan warnanya, karena tidak ada yang tampak sama. Bahkan terkadang ada nuansa warna pada batang dan kepala penis. Selain itu ujung penis dan uretra yang dimiliki masing-masing pria pun bervariasi.
Beberapa penis dapat memiliki pembuluh darah menonjol, sementara yang lain tidak sama sekali. Ada penis yang disunat dan yang tidak disunat, sehingga terkait hal ini, bentuk penis sudah pasti berbeda. Semua ini menunjukkan bahwa setiap penis berbeda.
Terkait panjang penis, menurut studi pada 1.661 orang yang dipublikasikan dalam Journal of Sexual Medicine pada 2013, rata-rata penis yang ereksi berukuran 14 cm. Akan tetapi, sangat jelas ada keberagaman, di mana ditemukan pula pria yang memiliki panjang ereksi antara 4 cm hingga 26 cm.
Menurut seksolog dr Andri Wanananda MS, penis tidak berlapiskan otot sebagaimana pangkal lengan atau paha yang bisa dilatih untuk dibesarkan di pusat kebugaran. Selain itu yang paling penting sebenarnya bukan besar atau kecilnya penis, melainkan keras dan tegangnya saat mengalami rangsangan seksual.
Apalagi panjang vagina rata-rata adalah 4 inchi dan saraf-saraf yang menimbulkan rasa menyenangkan terletak di sepertiga luar vagina. Ujung saraf terbanyak, yakni sebanyak 8.000, tidak berada di dalam vagina melainkan di klitoris. Selain itu beberapa perempuan melaporkan penis yang terlalu besar kadang menimbulkan rasa tidak nyaman, bahkan menimbulkan rasa sakit.
Selain ukuran, hal yang dikeluhkan beberapa pria adalah penisnya yang tidak lurus alias bengkok. Jika bengkoknya sangat kentara hingga menyerupai pisang atau gagang payung, biasanya dipicu oleh peyronie's disease. Hingga batas tertentu gangguan ini tidak berbahaya, tetapi kalau sudah ekstrem bisa memicu rasa nyeri yang sangat mengganggu.
Penyebab paling umum penis bengkok adalah bekas luka yang membentuk jaringan keras di salah satu sisi dan menghambat pertumbuhan di sisi tersebut. Operasi sering jadi pilihan untuk mengatasinya, namun belakangan bisa juga diatasi dengan menyuntikkan senyawa tertentu.
Dari sisi medis, penis yang normal adalah penis yang sehat, yakni yang tidak terkena penyakit seperti misalnya kutil kelamin. Sebagaimana wajah manusia di mana tidak ada yang seragam, begitu pula halnya dengan penis, kondisinya berbeda-beda. Warnanya berbeda, ukurannya pun berbeda antara laki-laki yang satu dengan yang lain.
Karena berada di tempat yang tertutup, masing-masing pria tentu kesulitan untuk membandingkan penisnya dengan penis teman-temannya. Sehingga 'kenormalan' penis kerap mengacu pada film-film maupun gambar bermuatan pornografi yang dilihatnya. Sayangnya apa yang disajikan dalam foto dan gambar tersebut tidak mencerminkan dunia nyata.
Dikutip dari Body and Soul, tidak ada patokan angka tertentu untuk ukuran penis. Demikian pula dengan bentuk dan warnanya, karena tidak ada yang tampak sama. Bahkan terkadang ada nuansa warna pada batang dan kepala penis. Selain itu ujung penis dan uretra yang dimiliki masing-masing pria pun bervariasi.
Beberapa penis dapat memiliki pembuluh darah menonjol, sementara yang lain tidak sama sekali. Ada penis yang disunat dan yang tidak disunat, sehingga terkait hal ini, bentuk penis sudah pasti berbeda. Semua ini menunjukkan bahwa setiap penis berbeda.
Terkait panjang penis, menurut studi pada 1.661 orang yang dipublikasikan dalam Journal of Sexual Medicine pada 2013, rata-rata penis yang ereksi berukuran 14 cm. Akan tetapi, sangat jelas ada keberagaman, di mana ditemukan pula pria yang memiliki panjang ereksi antara 4 cm hingga 26 cm.
Menurut seksolog dr Andri Wanananda MS, penis tidak berlapiskan otot sebagaimana pangkal lengan atau paha yang bisa dilatih untuk dibesarkan di pusat kebugaran. Selain itu yang paling penting sebenarnya bukan besar atau kecilnya penis, melainkan keras dan tegangnya saat mengalami rangsangan seksual.
Apalagi panjang vagina rata-rata adalah 4 inchi dan saraf-saraf yang menimbulkan rasa menyenangkan terletak di sepertiga luar vagina. Ujung saraf terbanyak, yakni sebanyak 8.000, tidak berada di dalam vagina melainkan di klitoris. Selain itu beberapa perempuan melaporkan penis yang terlalu besar kadang menimbulkan rasa tidak nyaman, bahkan menimbulkan rasa sakit.
Selain ukuran, hal yang dikeluhkan beberapa pria adalah penisnya yang tidak lurus alias bengkok. Jika bengkoknya sangat kentara hingga menyerupai pisang atau gagang payung, biasanya dipicu oleh peyronie's disease. Hingga batas tertentu gangguan ini tidak berbahaya, tetapi kalau sudah ekstrem bisa memicu rasa nyeri yang sangat mengganggu.
Penyebab paling umum penis bengkok adalah bekas luka yang membentuk jaringan keras di salah satu sisi dan menghambat pertumbuhan di sisi tersebut. Operasi sering jadi pilihan untuk mengatasinya, namun belakangan bisa juga diatasi dengan menyuntikkan senyawa tertentu.
Gangguan Hasrat Seks Pria Dipengaruhi Hormon Produsen ASI
Kalau pria bermasalah di atas ranjang, biasanya itu karena stres atau
rendahnya kadar testosterone dalam tubuhnya. Namun sebuah studi baru
mengatakan masalah seksual pada pria bisa jadi karena tubuhnya
kekurangan hormon produsen ASI. Kok bisa?
Fakta ini tentu mengejutkan karena selama ini yang diketahui banyak orang adalah hormon bernama prolaktin ini identik dengan wanita, karena berfungsi merangsang pertumbuhan payudara dan produksi ASI pada wanita. Akan tetapi dalam studi ini malah ditemukan bahwa hormon ini ternyata juga mempengaruhi fungsi seksual pria secara signifikan.
Hal ini dibuktikan peneliti dengan mengukur kadar testosterone dan prolaktin, kadar kolesterol dan gula darah serta indeks massa tubuh (BMI) 3.000 pria Eropa berusia 40-79 tahun. Partisipan juga diminta mengisi kuesioner tentang kondisi kesehatan, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol dan fungsi seksualnya.
Seperti dilansir NBC News, dari situ diketahui bahwa rendahnya kadar prolaktin ternyata ada hubungannya dengan sejumlah gejala gangguan kesehatan seksual, begitu juga dengan kesehatan psikologisnya. Bahkan pria yang kadar prolaktinnya berada di bawah rata-rata, meskipun masih dalam batasan normal, lebih cenderung melaporkan jika fungsi seksual makin lama makin memburuk, terutama berkaitan dengan kepuasan orgasme mereka.
Kata peneliti, pria-pria ini juga lebih banyak memperlihatkan gejala depresi ketimbang pria yang kadar prolaktinnya tak begitu rendah. Studi yang sama juga menemukan bahwa rendahnya prolaktin dapat dikaitkan dengan indeks massa tubuh (BMI) dan kadar gula yang tinggi serta rendahnya tingkat aktivitas fisik.
Yang tak banyak diketahui orang, ternyata prolaktin tak hanya dihasilkan oleh wanita, tapi juga para pria, kendati hingga kini fungsi hormon ini sendiri belum jelas. Lagipula peneliti mengaku tak tahu-menahu bagaimana prolaktin dapat meningkatkan fungsi seksual seorang pria.
Bisa jadi rendahnya kadar prolaktin menyebabkan perubahan kadar senyawa-senyawa kimia yang bertugas mengirim sinyal di dalam otak untuk mengatur perilaku seksual seseorang. Peneliti juga tak menutup kemungkinan kondisi kesehatan yang buruk berada di balik rendahnya kadar prolaktin dalam tubuh, termasuk rendahnya gairah seks.
Fakta ini tentu mengejutkan karena selama ini yang diketahui banyak orang adalah hormon bernama prolaktin ini identik dengan wanita, karena berfungsi merangsang pertumbuhan payudara dan produksi ASI pada wanita. Akan tetapi dalam studi ini malah ditemukan bahwa hormon ini ternyata juga mempengaruhi fungsi seksual pria secara signifikan.
Hal ini dibuktikan peneliti dengan mengukur kadar testosterone dan prolaktin, kadar kolesterol dan gula darah serta indeks massa tubuh (BMI) 3.000 pria Eropa berusia 40-79 tahun. Partisipan juga diminta mengisi kuesioner tentang kondisi kesehatan, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol dan fungsi seksualnya.
Seperti dilansir NBC News, dari situ diketahui bahwa rendahnya kadar prolaktin ternyata ada hubungannya dengan sejumlah gejala gangguan kesehatan seksual, begitu juga dengan kesehatan psikologisnya. Bahkan pria yang kadar prolaktinnya berada di bawah rata-rata, meskipun masih dalam batasan normal, lebih cenderung melaporkan jika fungsi seksual makin lama makin memburuk, terutama berkaitan dengan kepuasan orgasme mereka.
Kata peneliti, pria-pria ini juga lebih banyak memperlihatkan gejala depresi ketimbang pria yang kadar prolaktinnya tak begitu rendah. Studi yang sama juga menemukan bahwa rendahnya prolaktin dapat dikaitkan dengan indeks massa tubuh (BMI) dan kadar gula yang tinggi serta rendahnya tingkat aktivitas fisik.
Yang tak banyak diketahui orang, ternyata prolaktin tak hanya dihasilkan oleh wanita, tapi juga para pria, kendati hingga kini fungsi hormon ini sendiri belum jelas. Lagipula peneliti mengaku tak tahu-menahu bagaimana prolaktin dapat meningkatkan fungsi seksual seorang pria.
Bisa jadi rendahnya kadar prolaktin menyebabkan perubahan kadar senyawa-senyawa kimia yang bertugas mengirim sinyal di dalam otak untuk mengatur perilaku seksual seseorang. Peneliti juga tak menutup kemungkinan kondisi kesehatan yang buruk berada di balik rendahnya kadar prolaktin dalam tubuh, termasuk rendahnya gairah seks.
Selasa, 13 Agustus 2013
Cara Orgasme Berkali-kali!
Jangankan multiorgasme, bisa mencapai orgasme saja sudah untung, begitu mungkin kata sebagian perempuan. Maklum saja, banyak perempuan yang belum mampu mencapai orgasme lantaran belum cukup mengeksplorasi dirinya, atau karena pasangannya hanya mementingkan kepuasan dirinya.
Namun, ada jalan untuk mencapai klimaks, bahkan mendapatkannya berkali-kali. Kuncinya adalah, tidak malu untuk mengakui bahwa kita pun ingin merasakan sensasi kenikmatan tersebut, dan lebih berani mengeksplorasi diri. Berikut beberapa caranya:
Masturbasi. Inilah hal pertama yang bisa Anda lakukan untuk mencapai orgasme. Dengan masturbasi, Anda bisa mengenali bagaimana dan di mana sentuhan yang Anda inginkan, sekaligus yang tidak Anda sukai. Jika Anda memahami kebutuhan Anda sendiri, tentunya Anda bisa mengarahkan suami untuk menyentuh Anda di titik-titik paling sensitif dari tubuh Anda.
Latih otot vagina. Untuk melakukan sesi bercinta yang baik, Anda perlu memastikan bahwa otot dasar panggul dan otot-otot vagina Anda kuat. Otot vagina yang sehat akan mampu mengalirkan darah ke area yang memungkinkan Anda mengalami sensasi kenikmatan yang lebih dalam. Otot-otot ini berada di sekitar uretra, vagina, dan anus. Untuk melatihnya, lakukan senam Kegel di mana kita harus mengencangkan dan mengendurkan otot-otot tersebut, seperti saat Anda menahan pipis, dalam hitungan tertentu. Simak caranya di sini.
Tingkatkan foreplay. Foreplay boleh dibilang memegang peran paling penting untuk mencapai orgasme berulang kali. Kebanyakan perempuan hanya dapat mencapai klimaks melalui rangsangan klitoral secara langsung, jadi ajak pasangan untuk memusatkan perhatian ke area ini. Ia bisa menggunakan jemari ataupun lidahnya. Untuk melatih tubuh menerima sensasi puncak berkali-kali, biarkan pasangan menstimulasi Anda selama beberapa menit, kemudian berhenti sebentar, lalu mulai lagi. Dengan demikian, tubuh Anda akan tahu setelah satu stimulasi mencapai puncak, klimaks berikutnya akan datang lagi.
Alihkan ke area lain. Ketika mengalami orgasme melalui stimulasi klitoral, biasanya Anda akan merasakan sensasi geli yang luar biasa. Kalau sudah begini, Anda mungkin akan langsung menarik diri dari rangsangan si dia karena kulit Anda terlalu sensitif dengan sentuhannya. Namun, bila Anda masih menginginkan orgasme yang kedua (dan seterusnya), coba alihkan sentuhan pasangan ke area tubuh Anda yang lain yang tidak begitu sensitif. Di mana area tersebut? Anda yang lebih tahu. Entah itu payudara, bibir, atau leher Anda. Dengan menjaga saraf-saraf dan energi sensual Anda tetap tinggi, Anda tidak perlu mulai dari awal lagi untuk merasakan stimulasi dari si dia.
G-spot. Ketika klitoris sudah menjadi supersensitif melalui foreplay, Anda bisa beranjak ke area yang lebih dalam, yaitu G-spot. G-spot sebenarnya sangat sensitif, tetapi karena letaknya yang tersembunyi dan lebih sulit ditemukan, ia membutuhkan lebih banyak eksplorasi dan stimulasi. Jika Anda sulit menemukannya, coba lakukan posisi reverse cowgirl, atau posisi di mana Anda berada di atas tetapi membelakangi pasangan. Posisi ini secara alami akan menyentuh G-spot Anda, sekaligus menstimulasi klitoris melalui tubuhnya. Jangan lupa ajak si dia untuk terus menyentuh Anda.
Tak usah terburu-buru saat melakukan sesi ini, apalagi dengan memancang target untuk meraih multiorgasme. Lakukan dengan santai, perlahan, sambil menikmatinya semaksimal mungkin. Tak perlu mendesak si dia untuk membiarkan Anda orgasme lebih dulu. Hal ini hanya akan membuatnya tertekan dan lebih sulit untuk terangsang ataupun merangsang diri Anda.
Hanya 30 Persen Perempuan Alami Orgasme
Orgasme merupakan salah satu hal yang paling ingin dicapai saat bercinta.
Namun, sayangnya masih banyak perempuan yang belum mampu mencapai orgasme saat
bercinta dengan pasangannya, termasuk di Indonesia.
"Dari banyak penelitian, ditemukan fakta bahwa saat bercinta hanya para pria saja yang sering mencapai orgasme," tukas Firliana Purwanti, Program Officer Hak Asasi Manusia & Demokratisasi di Hivos Asia Tenggara sekaligus penulis The 'O' Project dalam acara Young Caring Profesional Awards di Jakarta beberapa waktu lalu.
Diakui Firliana melalui penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat, sekitar perempuan yang menikmati saat-saat bercinta dan mencapai orgasme hanya berkisar 30 persen saja, sedangkan pria yang bisa mencapai orgasme berkisar 70 persen. Angka ini termasuk cukup mengejutkan karena sebenarnya dalam bercinta seharusnya bisa dinikmati oleh kedua belah pihak sehingga mereka bisa sama-sama mencapai orgasme.
Firliana mencoba membuktikan penelitian di Amerika Serikat terhadap masyarakat Indonesia. Ia pun melakukan survei terhadap 16 orang perempuan di Indonesia tentang kepuasan orgasme saat bercinta, bertajuk The 'O' Project.
Survei ini dilakukan dengan metode wawancara terhadap perempuan di Aceh, Jakarta, Surabaya,Makassar dan beberapa kota lainnya dari berbagai status sosial dan pekerjaannya. Melibatkan perempuan lajang, sudah menikah, punya anak, lesbi, transgender, pekerja seks komersil, mengidap HIV, dan juga perempuan yang pernah disunat.
Dari penelitian yang dilakukannya, ia mengungkapkan bahwa para perempuan Indonesia juga mengalami kecenderungan yang sama. Artinya, hanya 30 persen perempuan Indonesia yang mengalami orgasme. Ia mengungkapkan bahwa rendahnya persentase perempuan yang bisa mencapai orgasme dalam kehidupan percintaannya ini banyak disebabkan oleh pola pikir yang salah.
"Banyak perempuan Indonesia yang mengalami the cinderella syndrome, yaitu sebuah kondisi dimana mereka diajarkan untuk selalu menunggu dan bersabar sembari menunggu seorang pangeran datang menjemput," tukasnya.
Tokoh Cindrella ini lekat dengan image perempuan baik-baik yang pada akhirnya akan menemukan seorang pangeran tampan sebagai pasangannya. Yang terjadi kemudian, perempuan cenderung pasrah dan pasif menunggu. Dianggap sebagai perempuan baik-baik, menjadi sebuah prestasi tersendiri. Lain halnya dengan pria yang tumbuh sebagai pribadi dengan wawasan lebih luas dan bebas mengekspresikan dirinya, karena pria cenderung dibolehkan untuk menjalani apa saja dalam hidupnya.
Menurut Firli, hal inilah yang menyebabkan adanya pola pikir yang salah dalam kehidupan seksual seorang perempuan. Adanya anggapan bahwa perempuan harus selalu pasif dan hanya laki-laki yang boleh aktif akan membuat perempuan kurang merasakan kepuasan dalam kehidupan seksualnya.
Sedikitnya jumlah perempuan yang menikmati orgasme juga disebabkan sikap perempuan yang selalu mendahulukan kesenangan seksual pasangan daripada dirinya sendiri. Kesulitan untuk mengekspresikan keinginan dan kebutuhan seksualitasnya juga menghambat perempuan Indonesia untuk menikmati aktivitas seksual bersama pasangan sehingga ia lebih sulit orgasme dibandingkan pria.
"Dari banyak penelitian, ditemukan fakta bahwa saat bercinta hanya para pria saja yang sering mencapai orgasme," tukas Firliana Purwanti, Program Officer Hak Asasi Manusia & Demokratisasi di Hivos Asia Tenggara sekaligus penulis The 'O' Project dalam acara Young Caring Profesional Awards di Jakarta beberapa waktu lalu.
Diakui Firliana melalui penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat, sekitar perempuan yang menikmati saat-saat bercinta dan mencapai orgasme hanya berkisar 30 persen saja, sedangkan pria yang bisa mencapai orgasme berkisar 70 persen. Angka ini termasuk cukup mengejutkan karena sebenarnya dalam bercinta seharusnya bisa dinikmati oleh kedua belah pihak sehingga mereka bisa sama-sama mencapai orgasme.
Firliana mencoba membuktikan penelitian di Amerika Serikat terhadap masyarakat Indonesia. Ia pun melakukan survei terhadap 16 orang perempuan di Indonesia tentang kepuasan orgasme saat bercinta, bertajuk The 'O' Project.
Survei ini dilakukan dengan metode wawancara terhadap perempuan di Aceh, Jakarta, Surabaya,Makassar dan beberapa kota lainnya dari berbagai status sosial dan pekerjaannya. Melibatkan perempuan lajang, sudah menikah, punya anak, lesbi, transgender, pekerja seks komersil, mengidap HIV, dan juga perempuan yang pernah disunat.
Dari penelitian yang dilakukannya, ia mengungkapkan bahwa para perempuan Indonesia juga mengalami kecenderungan yang sama. Artinya, hanya 30 persen perempuan Indonesia yang mengalami orgasme. Ia mengungkapkan bahwa rendahnya persentase perempuan yang bisa mencapai orgasme dalam kehidupan percintaannya ini banyak disebabkan oleh pola pikir yang salah.
"Banyak perempuan Indonesia yang mengalami the cinderella syndrome, yaitu sebuah kondisi dimana mereka diajarkan untuk selalu menunggu dan bersabar sembari menunggu seorang pangeran datang menjemput," tukasnya.
Tokoh Cindrella ini lekat dengan image perempuan baik-baik yang pada akhirnya akan menemukan seorang pangeran tampan sebagai pasangannya. Yang terjadi kemudian, perempuan cenderung pasrah dan pasif menunggu. Dianggap sebagai perempuan baik-baik, menjadi sebuah prestasi tersendiri. Lain halnya dengan pria yang tumbuh sebagai pribadi dengan wawasan lebih luas dan bebas mengekspresikan dirinya, karena pria cenderung dibolehkan untuk menjalani apa saja dalam hidupnya.
Menurut Firli, hal inilah yang menyebabkan adanya pola pikir yang salah dalam kehidupan seksual seorang perempuan. Adanya anggapan bahwa perempuan harus selalu pasif dan hanya laki-laki yang boleh aktif akan membuat perempuan kurang merasakan kepuasan dalam kehidupan seksualnya.
Sedikitnya jumlah perempuan yang menikmati orgasme juga disebabkan sikap perempuan yang selalu mendahulukan kesenangan seksual pasangan daripada dirinya sendiri. Kesulitan untuk mengekspresikan keinginan dan kebutuhan seksualitasnya juga menghambat perempuan Indonesia untuk menikmati aktivitas seksual bersama pasangan sehingga ia lebih sulit orgasme dibandingkan pria.
Untuk Orgasme, Ukuran Mr P Masih Dianggap Penting
Berbeda dengan pria, wanita umumnya lebih sulit mencapai
orgasme. Beberapa wanita baru bisa merasakan orgasme jika mendapatkan
perangsangan yang cukup dari penis pasangannya.
Meski ukuran penis yang besar bukan jaminan seorang wanita lebih mudah mencapai puncak kenikmatan, sebagian wanita merasa mereka lebih mudah mencapai orgasme vagina jika Mr P pasangannya cukup besar.
Seperti diketahui, terdapat dua jenis orgasme pada wanita, yaitu orgasme klitoral dan vaginal. Orgasme klitoral dicapai melalui perangsangan pada organ klitoris, sementara orgasme vaginal didapat melalui rangsangan pada vagina. Beberapa ahli menyebut orgasme jenis ini sebagai orgasme G-spot.
Dalam sebuah penelitian diketahui 33 persen wanita, terutama yang lebih suka orgasme vaginal, mengatakan bahwa ukuran Mr P pasangan adalah hal yang penting. Akan tetapi, jangan berkecil hati jika ukuran "yunior" Anda tergolong imut karena sekitar 60 persen wanita tak peduli dengan ukuran tersebut. Biar kecil yang penting garang.
Barry Kamisaruk, peneliti respons seksual wanita dari Rutgers University, menyebutkan bahwa sebenarnya masih ada perdebatan di antara para ahli mengenai orgasme klitoris dan vaginal.
Menurut Kamisaruk, saraf-saraf yang membawa sinyal rangsangan di area klitoris dan vagina berbeda. "Itu berarti perangsangan di setiap organ tersebut akan mengaktifkan area otak yang juga berbeda," katanya.
Pendapat lain mengatakan bahwa stimulasi pada vagina sebenarnya mengaktifkan bagian yang lebih dalam di area klitoris. Jadi, kedua jenis orgasme itu pada dasarnya sama.
Kaum wanita sendiri mengatakan bahwa mereka merasakan sensasi yang berbeda dari orgasme klitoris atau vagina. Namun, mengenai mana yang lebih disukai, itu kembali pada pilihan tiap individu.
Yang pasti dibutuhkan adalah waktu dan kesabaran untuk mengetahui area mana yang paling mudah dirangsang. Terlebih lagi, bagi sebagian wanita, orgasme adalah sebuah penantian yang berharga.
Demikian pula halnya untuk mencapai orgasme ganda, sebagian mengatakan tidak diperlukan ukuran penis yang besar untuk membantu wanita mencapainya. Yang utama adalah pria harus tetap memberikan perangsangan terus-menerus hingga sejumlah orgasme yang diinginkan tercapai.
Meski ukuran penis yang besar bukan jaminan seorang wanita lebih mudah mencapai puncak kenikmatan, sebagian wanita merasa mereka lebih mudah mencapai orgasme vagina jika Mr P pasangannya cukup besar.
Seperti diketahui, terdapat dua jenis orgasme pada wanita, yaitu orgasme klitoral dan vaginal. Orgasme klitoral dicapai melalui perangsangan pada organ klitoris, sementara orgasme vaginal didapat melalui rangsangan pada vagina. Beberapa ahli menyebut orgasme jenis ini sebagai orgasme G-spot.
Dalam sebuah penelitian diketahui 33 persen wanita, terutama yang lebih suka orgasme vaginal, mengatakan bahwa ukuran Mr P pasangan adalah hal yang penting. Akan tetapi, jangan berkecil hati jika ukuran "yunior" Anda tergolong imut karena sekitar 60 persen wanita tak peduli dengan ukuran tersebut. Biar kecil yang penting garang.
Barry Kamisaruk, peneliti respons seksual wanita dari Rutgers University, menyebutkan bahwa sebenarnya masih ada perdebatan di antara para ahli mengenai orgasme klitoris dan vaginal.
Menurut Kamisaruk, saraf-saraf yang membawa sinyal rangsangan di area klitoris dan vagina berbeda. "Itu berarti perangsangan di setiap organ tersebut akan mengaktifkan area otak yang juga berbeda," katanya.
Pendapat lain mengatakan bahwa stimulasi pada vagina sebenarnya mengaktifkan bagian yang lebih dalam di area klitoris. Jadi, kedua jenis orgasme itu pada dasarnya sama.
Kaum wanita sendiri mengatakan bahwa mereka merasakan sensasi yang berbeda dari orgasme klitoris atau vagina. Namun, mengenai mana yang lebih disukai, itu kembali pada pilihan tiap individu.
Yang pasti dibutuhkan adalah waktu dan kesabaran untuk mengetahui area mana yang paling mudah dirangsang. Terlebih lagi, bagi sebagian wanita, orgasme adalah sebuah penantian yang berharga.
Demikian pula halnya untuk mencapai orgasme ganda, sebagian mengatakan tidak diperlukan ukuran penis yang besar untuk membantu wanita mencapainya. Yang utama adalah pria harus tetap memberikan perangsangan terus-menerus hingga sejumlah orgasme yang diinginkan tercapai.
Waktu yang Tepat untuk Bercinta
Selain posisi dan teknik dalam bercinta, ternyata pemilihan
waktu juga berperan besar dalam tercapainya puncak kenikmatan alias orgasme.
Jadi, kapan waktu yang paling tepat?
Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam The Journal of Sexual Medicine disebutkan bahwa sekitar 14 hari setelah siklus menstruasi adalah waktu yang paling tepat. Wanita yang bercinta pada periode tersebut cenderung lebih mudah mencapai orgasme.
Pada periode 14 hari pasca-menstruasi, klitoris akan membesar sekitar 20 persen dan lebih peka terhadap rangsangan. Dengan demikian, seorang wanita akan menjadi lebih mudah bergairah.
Sekelompok peneliti dari Italia yang melakukan penelitian itu melibatkan 24 wanita berusia 18-35 tahun. Menggunakan peralatan ultrasound, klitoris para responden diukur, demikian pula pembuluh darah utama yang mengalirkan darah ke klitoris sehingga akan timbul gairah seksual.
Pengukuran lewat ultrasound tersebut dilakukan di awal, tengah, dan akhir siklus menstruasi. Hasilnya, pada hari ke-14 siklus menstruasi, ukuran klitoris lebih besar sampai 20 persen. Selain itu, pembuluh darah juga cenderung membesar sehingga sirkulasi darah ke organ tersebut lebih lancar.
Hari ke-14 adalah sekitar masa ovulasi sehingga terjadi perubahan pada tubuh. Perubahan itu juga dipengaruhi oleh hormon estrogen. Tak heran jika di masa subur tersebut, kebanyakan wanita menjadi lebih bersemangat berhubungan seks dibanding hari-hari lainnya.
Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam The Journal of Sexual Medicine disebutkan bahwa sekitar 14 hari setelah siklus menstruasi adalah waktu yang paling tepat. Wanita yang bercinta pada periode tersebut cenderung lebih mudah mencapai orgasme.
Pada periode 14 hari pasca-menstruasi, klitoris akan membesar sekitar 20 persen dan lebih peka terhadap rangsangan. Dengan demikian, seorang wanita akan menjadi lebih mudah bergairah.
Sekelompok peneliti dari Italia yang melakukan penelitian itu melibatkan 24 wanita berusia 18-35 tahun. Menggunakan peralatan ultrasound, klitoris para responden diukur, demikian pula pembuluh darah utama yang mengalirkan darah ke klitoris sehingga akan timbul gairah seksual.
Pengukuran lewat ultrasound tersebut dilakukan di awal, tengah, dan akhir siklus menstruasi. Hasilnya, pada hari ke-14 siklus menstruasi, ukuran klitoris lebih besar sampai 20 persen. Selain itu, pembuluh darah juga cenderung membesar sehingga sirkulasi darah ke organ tersebut lebih lancar.
Hari ke-14 adalah sekitar masa ovulasi sehingga terjadi perubahan pada tubuh. Perubahan itu juga dipengaruhi oleh hormon estrogen. Tak heran jika di masa subur tersebut, kebanyakan wanita menjadi lebih bersemangat berhubungan seks dibanding hari-hari lainnya.
Reaksi Kimia di Otak Saat Orgasme
Banyak pasangan yang menganggap hubungan seksual
belum sempurna jika mereka tidak bisa mencapai orgasme. Tak heran karena
orgasme merupakan puncak kenikmatan seksual.
Ketika orgasme datang, hampir seluruh bagian tubuh ikut bereaksi, termasuk bagian otak. Dalam sebuah penelitian menggunakan pemindaian otak (MRI) terhadap wanita yang sedang melakukan masturbasi, diketahui bahwa ketika "ledakan" orgasme datang, terjadi reaksi mirip nyala kembang api pada tahun baru di otak.
Mari kita simak apa saja respons kimia di otak selama kita berhubungan seksual.
- Sentuhan pertama
Sensori genital di bagian otak akan terstimulasi. Ternyata, klitoris, vagina, dan area serviks akan menstimulasi bagian otak yang berbeda. Ini berarti, setiap bagian tersebut bisa menghasilkan orgasme sendiri-sendiri. Karenanya, merangsang bagian-bagian genital tersebut akan memicu orgasme yang lebih intens.
- Rangsangan berlanjut
Rangsangan yang terus berlanjut akan mengaktifkan bagian hippocampus, bagian otak yang membangkitkan memori. Selain itu, bagian otak amygdala, yang berkaitan dengan ekpresi emosi dan perasaan intens, ikut aktif.
- Hampir sampai
Pada awal bagian orgasme, otak kecil akan memicu sensasi fisik yang kuat pada panggul, bokong, dan perut. Sementara bagian otak yang mengatur perencanaan dan pikiran abstrak menghamburkan makin banyak fantasi seksual. Area otak tertentu juga akan menghasilkan zat antinyeri sehingga yang Anda rasakan hanya kesenangan.
- Puncak kesenangan
Hipotalamus akan menghasilkan oksitosin, memicu kontraksi uterin sehingga menyebabkan sensasi orgasme yang dahsyat. Otot sekujur tubuh juga akan berkontraksi selama orgasme. Pada momen ini oksitosin atau dikenal sebagai hormon cinta akan menimbulkan sebuah perasaan yang intim dan dalam dengan pasangan.
- Setelah orgasme
Setelah sensasi puncak tersebut, segala sesuatunya perlahan mulai menurun. Tekanan darah, denyut jantung, dan denyut napas perlahan kembali normal
Ketika orgasme datang, hampir seluruh bagian tubuh ikut bereaksi, termasuk bagian otak. Dalam sebuah penelitian menggunakan pemindaian otak (MRI) terhadap wanita yang sedang melakukan masturbasi, diketahui bahwa ketika "ledakan" orgasme datang, terjadi reaksi mirip nyala kembang api pada tahun baru di otak.
Mari kita simak apa saja respons kimia di otak selama kita berhubungan seksual.
- Sentuhan pertama
Sensori genital di bagian otak akan terstimulasi. Ternyata, klitoris, vagina, dan area serviks akan menstimulasi bagian otak yang berbeda. Ini berarti, setiap bagian tersebut bisa menghasilkan orgasme sendiri-sendiri. Karenanya, merangsang bagian-bagian genital tersebut akan memicu orgasme yang lebih intens.
- Rangsangan berlanjut
Rangsangan yang terus berlanjut akan mengaktifkan bagian hippocampus, bagian otak yang membangkitkan memori. Selain itu, bagian otak amygdala, yang berkaitan dengan ekpresi emosi dan perasaan intens, ikut aktif.
- Hampir sampai
Pada awal bagian orgasme, otak kecil akan memicu sensasi fisik yang kuat pada panggul, bokong, dan perut. Sementara bagian otak yang mengatur perencanaan dan pikiran abstrak menghamburkan makin banyak fantasi seksual. Area otak tertentu juga akan menghasilkan zat antinyeri sehingga yang Anda rasakan hanya kesenangan.
- Puncak kesenangan
Hipotalamus akan menghasilkan oksitosin, memicu kontraksi uterin sehingga menyebabkan sensasi orgasme yang dahsyat. Otot sekujur tubuh juga akan berkontraksi selama orgasme. Pada momen ini oksitosin atau dikenal sebagai hormon cinta akan menimbulkan sebuah perasaan yang intim dan dalam dengan pasangan.
- Setelah orgasme
Setelah sensasi puncak tersebut, segala sesuatunya perlahan mulai menurun. Tekanan darah, denyut jantung, dan denyut napas perlahan kembali normal
Wanita Ini Mengalami "Orgasme Kaki"
Seorang wanita 55 tahun asal Belanda mengunjungi dokter
lantaran sebuah keluhan aneh. Ia mengalami orgasme yang tidak diinginkan yang
terjadi dimulai dari kakinya.
Sensasi orgasme yang terjadi di kaki kirinya terjadi dengan tiba-tiba, bukan dari hasrat atau pikiran seksual. Bahkan, sensasi tersebut dapat dirasakan sekitar lima hingga enam kali per hari. Sensasi dimulai dari kaki kemudian menjalar ke betis, paha, hingga vagina. Wanita itu pun merasakan sensasi orgasme yang sama seperti saat berhubungan seks.
Dokter yang menanganinya, dr Marcel D Waldinger mengatakan, orgasme ini sangat memalukan dan mencemaskan bagi wanita ini.
"Ini sangat buruk baginya," ujar ahli saraf dan profesor psikofarmakologi seksual di Utrecht University, Belanda.
Hasil pemindaian otak dengan magnetic resonance images (MRI) menunjukkan adanya ketidaknormalan pada otak dan kaki wanita tersebut. Sementara tes lainnya menunjukkan adanya perbedaan saraf antara kaki kanan dan kirinya. Rangsangan listrik di kaki kirinya dapat menimbulkan orgasme spontan.
Dokter kemudian mengobati wanita dengan suntikan bius pada saraf tulang belakang yang menerima informasi rangsang dari kaki. Hasilnya postif, orgasme tidak lagi terjadi sejauh ini hingga delapan bulan. Waldinger mengatakan, mungkin ia membutuhkan suntikan lagi jika mulai merasakan orgasme kaki kembali.
Menurut para peneliti, fenomena ini merupakan hasil dari kekacauan di otak. Mereka mengatakan, otak wanita itu tidak dapat membedakan lagi vagina dengan kaki sehingga rangsangan di kaki juga mampu membuatnya orgasme.
Faktanya, satu setengah tahun sebelum orgasme kaki terjadi, wanita itu sempat dirawat selama tiga minggu di intensive care unit (ICU) dalam keadaan koma akibat infeksi sepsis. Selepas koma, wanita itu mengalami sensasi terbakar di kaki kirinya yang kemungkinan diakibatkan oleh kerusakan saraf halus di kaki.
Yang menarik, saraf yang mengirimkan informasi rangsangan dari kaki memasuki saraf tulang belakang dalam kadar yang sama dengan saraf yang mengirimkan informasi rangsangan dari vagina.
Orgasme kaki merupakan fenomena yang sangat jarang terjadi. Sebelumnya, orgasme kaki ditemukan pada seorang pria dengan amputasi kaki.
"Ini bukanlah masalah psikologis, melainkan masalah saraf yang dapat dijelaskan dan diobati," pungkas Waldinger.
Sensasi orgasme yang terjadi di kaki kirinya terjadi dengan tiba-tiba, bukan dari hasrat atau pikiran seksual. Bahkan, sensasi tersebut dapat dirasakan sekitar lima hingga enam kali per hari. Sensasi dimulai dari kaki kemudian menjalar ke betis, paha, hingga vagina. Wanita itu pun merasakan sensasi orgasme yang sama seperti saat berhubungan seks.
Dokter yang menanganinya, dr Marcel D Waldinger mengatakan, orgasme ini sangat memalukan dan mencemaskan bagi wanita ini.
"Ini sangat buruk baginya," ujar ahli saraf dan profesor psikofarmakologi seksual di Utrecht University, Belanda.
Hasil pemindaian otak dengan magnetic resonance images (MRI) menunjukkan adanya ketidaknormalan pada otak dan kaki wanita tersebut. Sementara tes lainnya menunjukkan adanya perbedaan saraf antara kaki kanan dan kirinya. Rangsangan listrik di kaki kirinya dapat menimbulkan orgasme spontan.
Dokter kemudian mengobati wanita dengan suntikan bius pada saraf tulang belakang yang menerima informasi rangsang dari kaki. Hasilnya postif, orgasme tidak lagi terjadi sejauh ini hingga delapan bulan. Waldinger mengatakan, mungkin ia membutuhkan suntikan lagi jika mulai merasakan orgasme kaki kembali.
Menurut para peneliti, fenomena ini merupakan hasil dari kekacauan di otak. Mereka mengatakan, otak wanita itu tidak dapat membedakan lagi vagina dengan kaki sehingga rangsangan di kaki juga mampu membuatnya orgasme.
Faktanya, satu setengah tahun sebelum orgasme kaki terjadi, wanita itu sempat dirawat selama tiga minggu di intensive care unit (ICU) dalam keadaan koma akibat infeksi sepsis. Selepas koma, wanita itu mengalami sensasi terbakar di kaki kirinya yang kemungkinan diakibatkan oleh kerusakan saraf halus di kaki.
Yang menarik, saraf yang mengirimkan informasi rangsangan dari kaki memasuki saraf tulang belakang dalam kadar yang sama dengan saraf yang mengirimkan informasi rangsangan dari vagina.
Orgasme kaki merupakan fenomena yang sangat jarang terjadi. Sebelumnya, orgasme kaki ditemukan pada seorang pria dengan amputasi kaki.
"Ini bukanlah masalah psikologis, melainkan masalah saraf yang dapat dijelaskan dan diobati," pungkas Waldinger.
Wajah Tampan Lebih "Memuaskan" Wanita
Paras tampan pria ternyata tidak hanya mampu memikat wanita,
tetapi juga lebih baik dalam "memuaskan" pasangannya. Sebuah studi
menemukan bahwa perempuan cenderung lebih mudah mengalami orgasme dengan
pasangan yang dinilai lebih maskulin dan dominan serta tentu saja berwajah
tampan.
Studi tersebut juga mengungkap bahwa wanita yang memiliki pasangan tampan dan dominan lebih mungkin untuk mencapai orgasme bersamaan atau sesudah ejakulasi pria sehingga lebih mudah untuk hamil.
Sebelumnya, orgasme pada wanita dinilai tidak berguna secara biologis. Namun, peneliti asal Pennyslvania State University mengklaim bahwa orgasme wanita memiliki fungsi evolusi.
Studi sebelumnya menunjukkan, orgasme wanita dapat membantu menahan sperma setelah berhubungan seksual dan memperbaiki konsepsi. Menurut studi tersebut, orgasme wanita mungkin merupakan salah satu cara untuk menyeleksi gen terbaik dari sperma untuk membentuk keturunan.
Sementara studi baru yang dipublikasi dalam jurnal Evolution and Human Behaviour menyatakan, maskulinitas dan ketampanan pria dapat mengatur frekuensi dan timing orgasme dari pasangannya.
Para peneliti menyimpulkan, meski studi ini masih memerlukan kajian lebih lanjut, hasilnya mendukung hipotesis bahwa orgasme wanita merupakan mekanisme seleksi gen berkualitas tinggi untuk membentuk keturunan.
Studi ini melakukan analisis terhadap 110 pasangan. Mereka ditanyai tentang pengalaman orgasme mereka, apakah sebelum, setelah, atau bersamaan dengan pasangan mereka. Selain itu, para wanita diminta menilai ketampanan, maskulinitas, dan dominasi pasangannya. Sementara para pria diminta menilai ketampanan, maskulinitas, dan dominasi dirinya sendiri serta feminitas dari pasangannya.
Hasilnya menunjukkan, jika seorang pria dinilai tampan dan maskulin oleh pasangannya, kesempatan si wanita untuk mencapai orgasme bersamaan dan setelah pasangannya lebih besar sehingga kesempatan untuk hamil juga lebih besar.
Menurut para peneliti, peluang mendapatkan hamil semakin besar jika wanita mencapai orgasme dalam satu menit sebelum atau 45 menit sesudah ejakulasi pria.
Studi tersebut juga mengungkap bahwa wanita yang memiliki pasangan tampan dan dominan lebih mungkin untuk mencapai orgasme bersamaan atau sesudah ejakulasi pria sehingga lebih mudah untuk hamil.
Sebelumnya, orgasme pada wanita dinilai tidak berguna secara biologis. Namun, peneliti asal Pennyslvania State University mengklaim bahwa orgasme wanita memiliki fungsi evolusi.
Studi sebelumnya menunjukkan, orgasme wanita dapat membantu menahan sperma setelah berhubungan seksual dan memperbaiki konsepsi. Menurut studi tersebut, orgasme wanita mungkin merupakan salah satu cara untuk menyeleksi gen terbaik dari sperma untuk membentuk keturunan.
Sementara studi baru yang dipublikasi dalam jurnal Evolution and Human Behaviour menyatakan, maskulinitas dan ketampanan pria dapat mengatur frekuensi dan timing orgasme dari pasangannya.
Para peneliti menyimpulkan, meski studi ini masih memerlukan kajian lebih lanjut, hasilnya mendukung hipotesis bahwa orgasme wanita merupakan mekanisme seleksi gen berkualitas tinggi untuk membentuk keturunan.
Studi ini melakukan analisis terhadap 110 pasangan. Mereka ditanyai tentang pengalaman orgasme mereka, apakah sebelum, setelah, atau bersamaan dengan pasangan mereka. Selain itu, para wanita diminta menilai ketampanan, maskulinitas, dan dominasi pasangannya. Sementara para pria diminta menilai ketampanan, maskulinitas, dan dominasi dirinya sendiri serta feminitas dari pasangannya.
Hasilnya menunjukkan, jika seorang pria dinilai tampan dan maskulin oleh pasangannya, kesempatan si wanita untuk mencapai orgasme bersamaan dan setelah pasangannya lebih besar sehingga kesempatan untuk hamil juga lebih besar.
Menurut para peneliti, peluang mendapatkan hamil semakin besar jika wanita mencapai orgasme dalam satu menit sebelum atau 45 menit sesudah ejakulasi pria.
Orgasme untuk Olahraga Otak
Mengisi teka-teki silang, bermain catur, atau sudoku selama
ini diketahui sangat efektif untuk melatih otak agar tidak lekas pikun. Namun,
penelitian terbaru mengungkap ada hal yang lebih efektif dari semua kegiatan
tersebut, yakni mencapai orgasme.
Sensasi yang timbul saat orgasme akan meningkatkan seluruh aktivitas otak. Sebaliknya, jika kita bermain puzzle atau mengisi TTS, memang terjadi peningkatan aktivitas otak, tetapi hanya bagian kecil otak yang aktif.
"Saat orgasme, ada peningkatan aliran darah ke bagian otak. Hal ini menyebabkan nutrisi dan oksigen yang mengalir ke otak menjadi berlimpah," kata Profesor Barry Komisaruk, neuroscientist, yang melakukan penelitian ini.
Dalam penelitiannya, Komisaruk mengukur aliran darah menuju otak saat orgasme. Peneliti ini sudah lama memfokuskan penelitiannya pada mekanisme biologi dan aktivitas otak saat wanita mengalami rangsangan.
Sebelumnya, ia juga melakukan penelitian mengenai bagian otak mana saja yang aktif saat seorang wanita mencapai klimaks. Orgasme juga diklaim bisa menghalangi rasa sakit.
"Kita harus mengetahui bagaimana otak menghasilkan rasa senang saat orgasme. Mungkin saja hal ini bisa mengobati depresi, kegelisahan, adiksi, atau rasa sakit," ujar Komisaruk.
Dalam sebuah penelitian menggunakan pemindaian otak (MRI), diketahui saat orgasme datang, terjadi reaksi mirip ledakan kembang api. Hampir seluruh bagian tubuh berkontraksi, termasuk otak.
Sensasi yang timbul saat orgasme akan meningkatkan seluruh aktivitas otak. Sebaliknya, jika kita bermain puzzle atau mengisi TTS, memang terjadi peningkatan aktivitas otak, tetapi hanya bagian kecil otak yang aktif.
"Saat orgasme, ada peningkatan aliran darah ke bagian otak. Hal ini menyebabkan nutrisi dan oksigen yang mengalir ke otak menjadi berlimpah," kata Profesor Barry Komisaruk, neuroscientist, yang melakukan penelitian ini.
Dalam penelitiannya, Komisaruk mengukur aliran darah menuju otak saat orgasme. Peneliti ini sudah lama memfokuskan penelitiannya pada mekanisme biologi dan aktivitas otak saat wanita mengalami rangsangan.
Sebelumnya, ia juga melakukan penelitian mengenai bagian otak mana saja yang aktif saat seorang wanita mencapai klimaks. Orgasme juga diklaim bisa menghalangi rasa sakit.
"Kita harus mengetahui bagaimana otak menghasilkan rasa senang saat orgasme. Mungkin saja hal ini bisa mengobati depresi, kegelisahan, adiksi, atau rasa sakit," ujar Komisaruk.
Dalam sebuah penelitian menggunakan pemindaian otak (MRI), diketahui saat orgasme datang, terjadi reaksi mirip ledakan kembang api. Hampir seluruh bagian tubuh berkontraksi, termasuk otak.
Orgasme Berulang
Orgasme merupakan sensasi yang dinanti tapi kerap sulit
dicapai oleh banyak wanita. Namun seorang wanita mengaku, dirinya dapat
merasakan 11 kali orgasme dalam satu hari dengan melakukan meditasi orgasmik
atau metode "om".
Adalah aktris Karean Lorre yang mengakui tubuhnya lebih sensitif dan menghargai pria sehingga ia dapat merasakan orgasme berulang. Ia mendapatkan semua itu dengan melakukan meditasi orgasmik yang diajarkan oleh seorang praktisi meditasi Nicole Daedone.
Lorre percaya, orgasme pada dasarnya merupakan hasil dari hubungan antara dua orang secara hormonal, emosional, dan spiritual sehingga pada awal mencoba metode tersebut, Lorre memfokuskan untuk meraih hubungan yang lebih baik dengan pasangannya daripada mencapai orgasme.
Diketahui, satu dari sepuluh wanita di dunia tidak mampu merasakan orgasme, tetapi Lorre bukanlah termasuk golongan tersebut. Ia melakukan meditasi orgasmik untuk menjadi lebih sensitif dan lebih menghargai pria.
"Saya sudah melakukan meditasi selama 20 tahun untuk mendapatkan kedamaian, namun meditasi orgasmik dapat memberikan rasa yang lebih sensitif, dan meningkatkan apresiasi saya kepada pria," ujar aktris yang berperan dalam serial X-Files ini.
Meditasi orgasmik merupakan latihan yang dilakukan selama 15 menit oleh dua orang. Latihan ini memfokuskan perhatian pada teknik yang digunakan dan sensasi yang diciptakan guna membuat wanita orgasme.
Seorang murid kelas meditasi, Rachel, mengatakan, saat umur 25 tahun dia pernah didiagnosis tidak akan pernah merasakan orgasme. Namun hal itu tidak terbukti setelah dia mengikuti kelas tersebut.
"Saya merasa ada saat getaran listrik itu datang dan saya pikir itulah rasanya menjadi wanita yang sesungguhnya, nyaman dan aman bersama pasangan kita," ujarnya.
Dr Pooja Lakshmin, peneliti di Rutgers University yang mempelajari orgasme, mengatakan, prinsip dari meditasi orgasmik sebenarnya adalah mengaktifkan area tertentu pada otak yang sama saat terjadinya orgasme.
"Meskipun pemikiran orang tentang orgasme wanita masih terbatas dan mekanisme apa yang mereka rasakan saat mencapai klimaks masih belum diketahui," tuturnya.
Adalah aktris Karean Lorre yang mengakui tubuhnya lebih sensitif dan menghargai pria sehingga ia dapat merasakan orgasme berulang. Ia mendapatkan semua itu dengan melakukan meditasi orgasmik yang diajarkan oleh seorang praktisi meditasi Nicole Daedone.
Lorre percaya, orgasme pada dasarnya merupakan hasil dari hubungan antara dua orang secara hormonal, emosional, dan spiritual sehingga pada awal mencoba metode tersebut, Lorre memfokuskan untuk meraih hubungan yang lebih baik dengan pasangannya daripada mencapai orgasme.
Diketahui, satu dari sepuluh wanita di dunia tidak mampu merasakan orgasme, tetapi Lorre bukanlah termasuk golongan tersebut. Ia melakukan meditasi orgasmik untuk menjadi lebih sensitif dan lebih menghargai pria.
"Saya sudah melakukan meditasi selama 20 tahun untuk mendapatkan kedamaian, namun meditasi orgasmik dapat memberikan rasa yang lebih sensitif, dan meningkatkan apresiasi saya kepada pria," ujar aktris yang berperan dalam serial X-Files ini.
Meditasi orgasmik merupakan latihan yang dilakukan selama 15 menit oleh dua orang. Latihan ini memfokuskan perhatian pada teknik yang digunakan dan sensasi yang diciptakan guna membuat wanita orgasme.
Seorang murid kelas meditasi, Rachel, mengatakan, saat umur 25 tahun dia pernah didiagnosis tidak akan pernah merasakan orgasme. Namun hal itu tidak terbukti setelah dia mengikuti kelas tersebut.
"Saya merasa ada saat getaran listrik itu datang dan saya pikir itulah rasanya menjadi wanita yang sesungguhnya, nyaman dan aman bersama pasangan kita," ujarnya.
Dr Pooja Lakshmin, peneliti di Rutgers University yang mempelajari orgasme, mengatakan, prinsip dari meditasi orgasmik sebenarnya adalah mengaktifkan area tertentu pada otak yang sama saat terjadinya orgasme.
"Meskipun pemikiran orang tentang orgasme wanita masih terbatas dan mekanisme apa yang mereka rasakan saat mencapai klimaks masih belum diketahui," tuturnya.
Jumat, 26 Juli 2013
6 Hal Saat Bercinta
Di saat tingkat kepercayaan diri seorang
wanita meningkat menjelang berhubungan seksual dengan sang suami, terkadang ada
suara-suara, aroma dan perasaan tertentu yang membuat mereka berhenti atau
mengurungkan niatnya untuk bercinta. Namun ada beberapa hal yang kerap membuat
wanita panik saat bercinta tapi sebenarnya itu normal.
Beberapa hal yang dimaksud dipaparkan langsung oleh sejumlah pakar kesehatan seksual sehingga dapat menjawab kekhawatiran yang dirasakan para wanita ketika menemui hal-hal tersebut saat bercinta dengan suami. Berikut paparannya seperti dirangkum dan dilansir Huffingtonpost, Rabu (24/7/2013).
1. Vagina mengering
Seorang dokter spesialis obstetri/ginekologi dari Yale University, Dr. Mary Jane Minkin mengatakan banyak wanita yang mengalami vagina mengering atau gatal saat bercinta. Faktanya, Women's Health melaporkan bahwa diperkirakan sepertiga wanita muda mengaku mengalaminya.
Tapi menurut jubir FirstResponse, hal ini dapat diatasi dengan menggunakan lubrikan atau pelumas dan vibrator.
Lain halnya jika vagina mengering ini memberikan beban serius terhadap kehidupan seksual Anda atau membuat Anda tak merasa nyaman seharian (yang biasanya kerap dialami wanita seiring dengan pertambahan usianya), buatlah janji dengan dokter pribadi Anda. Lagipula vagina mengering menyerang begitu banyak wanita, meski mereka jarang membicarakan topik ini dengan dokter-dokter mereka.
2. Hasrat ingin buang air kecil
"Ketika tengah melakukan posisi seks tertentu, normal jika Anda tiba-tiba merasakan hasrat ingin pipis," tandas Amy Levine, seorang pakar seks dan pendiri situs Ignite Your Pleasure.
"Sensasi itu biasanya muncul akibat rangsangan terhadap G-spot, yang pada akhirnya akan berujung pada ejakulasi. Ejakulasi sendiri seringkali keluar dari uretra atau kandung kemih, cairannya berwarna bening dan tidak beraroma," tambahnya.
Meski tidak terjadi pada semua wanita, tapi tidak tertutup kemungkinan bahwa wanita bisa buang air kecil dan orgasme dalam waktu yang bersamaan. Sejumlah wanita biasanya mudah 'kelepasan' buang air kecil saat tertawa, bersin atau orgasme, terutama setelah melahirkan. Para wanita juga kerap kesulitan untuk membedakan datangnya orgasme dan hasrat ingin pipis.
"Wanita yang tidak sering beser tapi merasakan hasrat ingin pipis menjelang orgasme bisa jadi memperoleh 'pesan' yang membingungkan dari bagian tubuhnya yang paling sensitif," terang Levine.
Tapi jika Anda takut hasrat ingin pipis ini muncul saat bercinta, Levine merekomendasikan agar Anda pergi ke toilet dulu sebelum berhubungan seksual.
3. Menjerit
Biasanya menjerit saat bercinta itu ada kaitannya dengan aspek performa pasangan. Sebuah studi yang dilakukan pada tahun 2011 (hanya difokuskan pada wanita heteroseksual) pun menemukan bahwa 66 persen wanita dilaporkan mengerang saat bercinta untuk mempercepat pasangannya mencapai klimaks. Sedangkan 87 persen mengaku melakukannya untuk meningkatkan kepercayaan diri pasangannya.
Tapi membuat suara-suara berisik juga bisa dimanfaatkan sebagai sarana untuk menyuarakan apa yang diinginkan wanita di atas ranjang. Hal ini dirasa penting bagi edukator seks, Patty Brisben karena dapat membantu wanita untuk mencapai orgasme.
4. Kentut
Kentut vagina (vaginal flatulence) tidaklah sama dengan kentut biasa, ini hanyalah udara biasa yang dilepaskan melalui vagina tapi suaranya memang sangat mirip dengan kentut biasa.
Kentut vagina terjadi ketika udara 'terjebak' di dalam vagina tapi karena sulit dicegah, setidaknya menghindari posisi seks tertentu dianggap dapat membantu mencegah munculnya kentut vagina. Berganti-ganti posisi seks diduga dapat meningkatkan peluang terjadinya kentut vagina.
"Namun lebih baik lagi jika tidak mengkhawatirkannya. Toh ini adalah proses alami. Tertawakan saja lalu lanjurkan aktivitas seksual Anda seperti tak terjadi apa-apa," saran Levine.
6. Perhatian mudah teralihkan
Di satu saat Anda menjadi sangat fokus terhadap setiap aktivitas yang dilakukan ketika bercinta, bahkan tak bisa memikirkan hal lain. Tapi di waktu lainnya mendadak Anda bisa kepikiran berbagai hal lain yang tak ada kaitannya dengan seks.
"Para wanita memang dilaporkan mudah teralihkan perhatiannya dengan apa yang terjadi dalam hidup mereka. Mereka kerap penasaran dengan apa yang salah pada diri mereka, misalnya jika mungkin mereka mendadak tak bisa fokus dengan adegan seks yang dilakukan bersama pasangan," jelas seorang terapis seks Resnick Anderson.
Padahal menurut Anderson, wajar bagi seorang wanita untuk mengalaminya. Yang terpenting adalah mereka tak seharusnya terlalu ambil pusing jika hal itu terjadi. Tapi jika masalah distraksi ini menjadi isu yang sering terjadi, sejumlah praktik latihan pemusatan pikiran dapat dilakukan untuk membuat mereka lebih fokus terhadap suatu hal.
7. Sakit kepala saat bercinta
Ini adalah sakit kepala membandel yang terjadi di kepala atau leher ketika gairah seksual tengah memuncak atau nyeri kepala yang muncul secara mendadak bersamaan dengan terjadinya orgasme.
Menurut Mayo Clinic, kondisi ini sebenarnya tak perlu dikhawatirkan tapi jika kerap terjadi secara mendadak itu bisa berarti gejala kondisi yang lebih serius. Misalnya pada situasi-situasi tertentu sejumlah wanita akan mengalami sakit kepala parah saat bercinta yang bisa saja diakibatkan oleh perubahan tekanan darah. Beruntung kondisi ini jarang terjadi tapi setiap wanita yang mengalaminya disarankan untuk segera menemui dokter.
Beberapa hal yang dimaksud dipaparkan langsung oleh sejumlah pakar kesehatan seksual sehingga dapat menjawab kekhawatiran yang dirasakan para wanita ketika menemui hal-hal tersebut saat bercinta dengan suami. Berikut paparannya seperti dirangkum dan dilansir Huffingtonpost, Rabu (24/7/2013).
1. Vagina mengering
Seorang dokter spesialis obstetri/ginekologi dari Yale University, Dr. Mary Jane Minkin mengatakan banyak wanita yang mengalami vagina mengering atau gatal saat bercinta. Faktanya, Women's Health melaporkan bahwa diperkirakan sepertiga wanita muda mengaku mengalaminya.
Tapi menurut jubir FirstResponse, hal ini dapat diatasi dengan menggunakan lubrikan atau pelumas dan vibrator.
Lain halnya jika vagina mengering ini memberikan beban serius terhadap kehidupan seksual Anda atau membuat Anda tak merasa nyaman seharian (yang biasanya kerap dialami wanita seiring dengan pertambahan usianya), buatlah janji dengan dokter pribadi Anda. Lagipula vagina mengering menyerang begitu banyak wanita, meski mereka jarang membicarakan topik ini dengan dokter-dokter mereka.
2. Hasrat ingin buang air kecil
"Ketika tengah melakukan posisi seks tertentu, normal jika Anda tiba-tiba merasakan hasrat ingin pipis," tandas Amy Levine, seorang pakar seks dan pendiri situs Ignite Your Pleasure.
"Sensasi itu biasanya muncul akibat rangsangan terhadap G-spot, yang pada akhirnya akan berujung pada ejakulasi. Ejakulasi sendiri seringkali keluar dari uretra atau kandung kemih, cairannya berwarna bening dan tidak beraroma," tambahnya.
Meski tidak terjadi pada semua wanita, tapi tidak tertutup kemungkinan bahwa wanita bisa buang air kecil dan orgasme dalam waktu yang bersamaan. Sejumlah wanita biasanya mudah 'kelepasan' buang air kecil saat tertawa, bersin atau orgasme, terutama setelah melahirkan. Para wanita juga kerap kesulitan untuk membedakan datangnya orgasme dan hasrat ingin pipis.
"Wanita yang tidak sering beser tapi merasakan hasrat ingin pipis menjelang orgasme bisa jadi memperoleh 'pesan' yang membingungkan dari bagian tubuhnya yang paling sensitif," terang Levine.
Tapi jika Anda takut hasrat ingin pipis ini muncul saat bercinta, Levine merekomendasikan agar Anda pergi ke toilet dulu sebelum berhubungan seksual.
3. Menjerit
Biasanya menjerit saat bercinta itu ada kaitannya dengan aspek performa pasangan. Sebuah studi yang dilakukan pada tahun 2011 (hanya difokuskan pada wanita heteroseksual) pun menemukan bahwa 66 persen wanita dilaporkan mengerang saat bercinta untuk mempercepat pasangannya mencapai klimaks. Sedangkan 87 persen mengaku melakukannya untuk meningkatkan kepercayaan diri pasangannya.
Tapi membuat suara-suara berisik juga bisa dimanfaatkan sebagai sarana untuk menyuarakan apa yang diinginkan wanita di atas ranjang. Hal ini dirasa penting bagi edukator seks, Patty Brisben karena dapat membantu wanita untuk mencapai orgasme.
4. Kentut
Kentut vagina (vaginal flatulence) tidaklah sama dengan kentut biasa, ini hanyalah udara biasa yang dilepaskan melalui vagina tapi suaranya memang sangat mirip dengan kentut biasa.
Kentut vagina terjadi ketika udara 'terjebak' di dalam vagina tapi karena sulit dicegah, setidaknya menghindari posisi seks tertentu dianggap dapat membantu mencegah munculnya kentut vagina. Berganti-ganti posisi seks diduga dapat meningkatkan peluang terjadinya kentut vagina.
"Namun lebih baik lagi jika tidak mengkhawatirkannya. Toh ini adalah proses alami. Tertawakan saja lalu lanjurkan aktivitas seksual Anda seperti tak terjadi apa-apa," saran Levine.
6. Perhatian mudah teralihkan
Di satu saat Anda menjadi sangat fokus terhadap setiap aktivitas yang dilakukan ketika bercinta, bahkan tak bisa memikirkan hal lain. Tapi di waktu lainnya mendadak Anda bisa kepikiran berbagai hal lain yang tak ada kaitannya dengan seks.
"Para wanita memang dilaporkan mudah teralihkan perhatiannya dengan apa yang terjadi dalam hidup mereka. Mereka kerap penasaran dengan apa yang salah pada diri mereka, misalnya jika mungkin mereka mendadak tak bisa fokus dengan adegan seks yang dilakukan bersama pasangan," jelas seorang terapis seks Resnick Anderson.
Padahal menurut Anderson, wajar bagi seorang wanita untuk mengalaminya. Yang terpenting adalah mereka tak seharusnya terlalu ambil pusing jika hal itu terjadi. Tapi jika masalah distraksi ini menjadi isu yang sering terjadi, sejumlah praktik latihan pemusatan pikiran dapat dilakukan untuk membuat mereka lebih fokus terhadap suatu hal.
7. Sakit kepala saat bercinta
Ini adalah sakit kepala membandel yang terjadi di kepala atau leher ketika gairah seksual tengah memuncak atau nyeri kepala yang muncul secara mendadak bersamaan dengan terjadinya orgasme.
Menurut Mayo Clinic, kondisi ini sebenarnya tak perlu dikhawatirkan tapi jika kerap terjadi secara mendadak itu bisa berarti gejala kondisi yang lebih serius. Misalnya pada situasi-situasi tertentu sejumlah wanita akan mengalami sakit kepala parah saat bercinta yang bisa saja diakibatkan oleh perubahan tekanan darah. Beruntung kondisi ini jarang terjadi tapi setiap wanita yang mengalaminya disarankan untuk segera menemui dokter.
Fakta Seputar Seks, PMS, dan Kehamilan
Mitos mengenai seks, penyakit menular
seksual (PMS), atau masa kehamilan pasti sering Anda dengar dalam kehidupan
sehari-hari. Terkadang, mitos-mitos tersebut memang diyakini kebenarannya dan
terdengar sangat meyakinkan.
Tapi, tak jarang pula sebagian orang yang justru meragukan kebenaran klaim terhadap mitos tersebut. Dr Vijay Singhal, seorang seksolog di Delhi Sri Balaji Action Medical Institute menjelaskan secara gamblang mitos-mitos terkait seks, PMS, dan kehamilan yang selama ini masih hidup di tengah-tengah masyarakat.
Berikut benar atau tidaknya beberapa mitos tersebut seperti dikutip dari Health Me Up, Kamis (25/7/2013):
1. Bisa hamil meskipun baru pertama kali berhubungan seks
"Kehamilan tergantung pada interval siklus menstruasi selama seseorang berhubungan seks. Jika wanita berhubungan seks di sekitar pertengahan siklus, maka ada kemungkinan dia hamil," kata Dr Vijay. Kemungkinan hamil juga lebih tinggi saat Anda berhubungan seks di puncak siklus menstruasi Anda.
2. Tertular infeksi PMS dari penggunaan toilet
"Tidak, biasanya orang yang memiliki PMS, terdapat hal tidak benar pada sejarah masa lalu mereka sehingga hal yang umum bagi mereka untuk mengatakan bahwa mereka terjangkit infeksi akibat menggunakan kursi toilet. tapi secara teoritis,ini adalah kejadian yang sangat langka," jelas Dr Vijay membantah klaim ini.
3. Minum pil antihamil di pagi hari sama dengan aborsi
Dr Vijay menjelaskan fungsi minum pil antihamil pagi hari yang membedakannya dengan pil aborsi. "Tidak sama. pada dasarnya, minum pil antihamil pada pagi hari tidak memungkinkan fertilisasi atau penyatuan gamet jantan dan betina sehingga tidak ada kemungkinan pembentukan janin. Bahkan jika janin terbentuk, tidak memungkinkan implantasi ke dalam rongga rahim. Jadi ini berbeda dengan pil aborsi," tandas Dr Vijay.
4. Ukuran rata-rata penis yakni 8 inchi
Hal ini tidak benar. Menurut Dr Vijay, rata-rata panjang penis pria saat terangsang yaitu sekitar 5,8 inchi. Pengukuran ini dilakukan dari pangkal batang penis ke ujung penis. Sedangkan, rata-rata ukuran penis manapun saat tidak terangsang yakni 3,5-3,9 inchi.
5. Tidak bisa hamil jika berhubungan seks saat menstruasi
Menurut Dr Vijay, bahkan jika Anda melakukan hubungan seks saat menstruasi, sperma bisa bertahan selama berhari-hari setelah hubungan seks. Berdasarkan konsisi yang berbeda, sperma bisa bertahan selama lima hari dalam tubuh wanita
Tapi, tak jarang pula sebagian orang yang justru meragukan kebenaran klaim terhadap mitos tersebut. Dr Vijay Singhal, seorang seksolog di Delhi Sri Balaji Action Medical Institute menjelaskan secara gamblang mitos-mitos terkait seks, PMS, dan kehamilan yang selama ini masih hidup di tengah-tengah masyarakat.
Berikut benar atau tidaknya beberapa mitos tersebut seperti dikutip dari Health Me Up, Kamis (25/7/2013):
1. Bisa hamil meskipun baru pertama kali berhubungan seks
"Kehamilan tergantung pada interval siklus menstruasi selama seseorang berhubungan seks. Jika wanita berhubungan seks di sekitar pertengahan siklus, maka ada kemungkinan dia hamil," kata Dr Vijay. Kemungkinan hamil juga lebih tinggi saat Anda berhubungan seks di puncak siklus menstruasi Anda.
2. Tertular infeksi PMS dari penggunaan toilet
"Tidak, biasanya orang yang memiliki PMS, terdapat hal tidak benar pada sejarah masa lalu mereka sehingga hal yang umum bagi mereka untuk mengatakan bahwa mereka terjangkit infeksi akibat menggunakan kursi toilet. tapi secara teoritis,ini adalah kejadian yang sangat langka," jelas Dr Vijay membantah klaim ini.
3. Minum pil antihamil di pagi hari sama dengan aborsi
Dr Vijay menjelaskan fungsi minum pil antihamil pagi hari yang membedakannya dengan pil aborsi. "Tidak sama. pada dasarnya, minum pil antihamil pada pagi hari tidak memungkinkan fertilisasi atau penyatuan gamet jantan dan betina sehingga tidak ada kemungkinan pembentukan janin. Bahkan jika janin terbentuk, tidak memungkinkan implantasi ke dalam rongga rahim. Jadi ini berbeda dengan pil aborsi," tandas Dr Vijay.
4. Ukuran rata-rata penis yakni 8 inchi
Hal ini tidak benar. Menurut Dr Vijay, rata-rata panjang penis pria saat terangsang yaitu sekitar 5,8 inchi. Pengukuran ini dilakukan dari pangkal batang penis ke ujung penis. Sedangkan, rata-rata ukuran penis manapun saat tidak terangsang yakni 3,5-3,9 inchi.
5. Tidak bisa hamil jika berhubungan seks saat menstruasi
Menurut Dr Vijay, bahkan jika Anda melakukan hubungan seks saat menstruasi, sperma bisa bertahan selama berhari-hari setelah hubungan seks. Berdasarkan konsisi yang berbeda, sperma bisa bertahan selama lima hari dalam tubuh wanita
Inilah Kecelakaan-kecelakaan Seks Tergila yang Pernah Ada
Hubungan intim seharusnya memberikan
kesenangan pada pelakunya. Namun karena terlalu brutal dan berlebihan, seks itu
juga bisa menyebabkan kecelakaan-kecelakaan tragis yang tak terduga.
Berikut 5 kecelakaan seks tergila yang pernah ada, seperti dilansir Huffingtonpost dan Livescience
Berikut 5 kecelakaan seks tergila yang pernah ada, seperti dilansir Huffingtonpost dan Livescience
1.
Penis patah
Sebuah studi menemukan bahwa 50 persen pria dirawat karena
penis patah (penile fractures) di University
of Maryland dalam 7 tahun
terakhir. Penis patah atau fraktur penis memang jarang, tapi kondisi ini
benar-benar bisa terjadi. Pada tahun 2001, tercatat ada sekitar 1.331 kasus
fraktur penis telah dilaporkan yang dimulai sejak tahun 1935.Fraktur penis terjadi karena ada tekanan traumatik pada corpus cavernousum, yaitu lapisan silinder dari penis. Corpus cavernousum berisi jaringan ereksi mirip spon yang mengandung darah selama ereksi. Bila ini terjadi, akan terdengar suara sentakan atau retakan dan kemudian penis berubah menjadi hitam dan biru, disertai rasa sakit yang mengerikan, bengkak dan memar, mirip fraktur yang terjadi pada tulang.
2.
Tuli gara-gara berciuman
Seorang wanita Tionghoa dilaporkan menjadi tuli di telinga
kiri setelah berciuman dengan pacarnya. Ciuman yang brutal diduga membuat pecah
gendang telinga bagian kiri.
3.
Cupang di leher yang bikin stroke
Seorang wanita di Selandia Baru harus dilarikan ke rumah
sakit karena mengalami lumpuh tiba-tiba di bagian kiri tubuhnya. Dokter yang
menanganinya menyimpulkan bahwa wanita tersebut mengalami stroke ringan.Dokter sempat bingung mencari penyebab stroke tersebut hingga akhirnya menemukan memar vertikal kecil di lehernya dekat arteri utama, bekas cupang yang terjadi beberapa hari sebelumnya.
4.
Kondom di dalam paru-paru
Seorang wanita India mengalami batuk persisten dan
demam panjang selama 6 bulan. Setelah diperiksa dokter sangat terkejut karena
menemukan ada kondom bersarang di paru-parunya. Diduga ia menghirup kondom
hingga akhirnya mencapai paru-paru.
5.
Penis terjebak di mur
Ini mungkin adalah cara paling gila untuk memperpanjang
penis. Demi mendapatkan alat kelamin yang panjang, seorang tukang las di Malaysia
memasukkan penisnya ke dalam mur (pasangan baut). Sayangnya, penis pria
tersebut mengalami ereksi dan terjebak di dalam mur.
Langganan:
Postingan (Atom)