Bercinta menjadi momen-momen yang menyenangkan bagi pasangan suami
istri. Terutama bagi pria, kadang kala posisi serta gaya bercinta yang
itu-itu saja bisa membuatnya bosan. Nah, sebenarnya pria juga mempunyai
posisi bercinta yang ia idam-idamkan.
1. Penetrasi lebih dalam
Untuk
melakukan hal ini, sebenarnya pria hanya perlu meyakinkan pasangannya.
Meskipun kebanyakan pria ingin sekali melakukan penetrasi sangat dalam,
tapi ia khawatir akan menyakiti pasangannya.
Sebenarnya ada cara
yang tidak terlalu menyakitkan bagi wanita tapi bisa memberi penetrasi
cukup dalam bagi pria. Tekuklah tubuh Anda di atas meja dan lebarkan
kaki, kemudian biarkan si dia melakukan penetrasi dari belakang.
2. Penetrasi dari belakang
Tidak
semua perempuan menikmati seks anal. Tapi itu tidak berarti Anda
sebagai pasangan tak bisa memenuhi fantasi si dia. Cobalah posisi
seperti doggy style di mana Anda berada pada posisi merangkak hingga si
dia bisa melihat keseluruhan bagian tubuh belakang Anda.
Atau,
Anda bisa mencoba menghadap dinding dan memintanya untuk melakukan
penetrasi dari belakang. Ini adalah salah satu posisi 'paling nakal'
yang tak akan pernah ditolak para pria.
3. Kaki di udara
Posisi
bercinta lainnya yang paling diinginkan para kaum adam adalah ketika
kaki Anda diregangkan dan berada di udara, sementara ia melakukan
penetrasi dengan kekuatan penuh. Posisi ini bisa membuat si dia melihat
ekspresi Anda saat mencapai klimaks secara keseluruhan dan itu bisa
memberikan kepuasan ekstra baginya.
INSPIRASI KELUARGA
Tulisan berupa macam-macam Inspirasi dan Pengalaman
Kamis, 21 November 2013
Seperti Apakah Penis yang Normal?
Beberapa pria, khususnya yang belum menikah, bertanya-tanya apakah
penis yang dimilikinya termasuk dalam kategori normal atau tidak.
Terkadang beberapa dari mereka tidak percaya diri dengan penisnya yang
dirasa kebesaran atau kekecilan. Sebenarnya, seperti apakah penis yang
normal?
Dari sisi medis, penis yang normal adalah penis yang sehat, yakni yang tidak terkena penyakit seperti misalnya kutil kelamin. Sebagaimana wajah manusia di mana tidak ada yang seragam, begitu pula halnya dengan penis, kondisinya berbeda-beda. Warnanya berbeda, ukurannya pun berbeda antara laki-laki yang satu dengan yang lain.
Karena berada di tempat yang tertutup, masing-masing pria tentu kesulitan untuk membandingkan penisnya dengan penis teman-temannya. Sehingga 'kenormalan' penis kerap mengacu pada film-film maupun gambar bermuatan pornografi yang dilihatnya. Sayangnya apa yang disajikan dalam foto dan gambar tersebut tidak mencerminkan dunia nyata.
Dikutip dari Body and Soul, tidak ada patokan angka tertentu untuk ukuran penis. Demikian pula dengan bentuk dan warnanya, karena tidak ada yang tampak sama. Bahkan terkadang ada nuansa warna pada batang dan kepala penis. Selain itu ujung penis dan uretra yang dimiliki masing-masing pria pun bervariasi.
Beberapa penis dapat memiliki pembuluh darah menonjol, sementara yang lain tidak sama sekali. Ada penis yang disunat dan yang tidak disunat, sehingga terkait hal ini, bentuk penis sudah pasti berbeda. Semua ini menunjukkan bahwa setiap penis berbeda.
Terkait panjang penis, menurut studi pada 1.661 orang yang dipublikasikan dalam Journal of Sexual Medicine pada 2013, rata-rata penis yang ereksi berukuran 14 cm. Akan tetapi, sangat jelas ada keberagaman, di mana ditemukan pula pria yang memiliki panjang ereksi antara 4 cm hingga 26 cm.
Menurut seksolog dr Andri Wanananda MS, penis tidak berlapiskan otot sebagaimana pangkal lengan atau paha yang bisa dilatih untuk dibesarkan di pusat kebugaran. Selain itu yang paling penting sebenarnya bukan besar atau kecilnya penis, melainkan keras dan tegangnya saat mengalami rangsangan seksual.
Apalagi panjang vagina rata-rata adalah 4 inchi dan saraf-saraf yang menimbulkan rasa menyenangkan terletak di sepertiga luar vagina. Ujung saraf terbanyak, yakni sebanyak 8.000, tidak berada di dalam vagina melainkan di klitoris. Selain itu beberapa perempuan melaporkan penis yang terlalu besar kadang menimbulkan rasa tidak nyaman, bahkan menimbulkan rasa sakit.
Selain ukuran, hal yang dikeluhkan beberapa pria adalah penisnya yang tidak lurus alias bengkok. Jika bengkoknya sangat kentara hingga menyerupai pisang atau gagang payung, biasanya dipicu oleh peyronie's disease. Hingga batas tertentu gangguan ini tidak berbahaya, tetapi kalau sudah ekstrem bisa memicu rasa nyeri yang sangat mengganggu.
Penyebab paling umum penis bengkok adalah bekas luka yang membentuk jaringan keras di salah satu sisi dan menghambat pertumbuhan di sisi tersebut. Operasi sering jadi pilihan untuk mengatasinya, namun belakangan bisa juga diatasi dengan menyuntikkan senyawa tertentu.
Dari sisi medis, penis yang normal adalah penis yang sehat, yakni yang tidak terkena penyakit seperti misalnya kutil kelamin. Sebagaimana wajah manusia di mana tidak ada yang seragam, begitu pula halnya dengan penis, kondisinya berbeda-beda. Warnanya berbeda, ukurannya pun berbeda antara laki-laki yang satu dengan yang lain.
Karena berada di tempat yang tertutup, masing-masing pria tentu kesulitan untuk membandingkan penisnya dengan penis teman-temannya. Sehingga 'kenormalan' penis kerap mengacu pada film-film maupun gambar bermuatan pornografi yang dilihatnya. Sayangnya apa yang disajikan dalam foto dan gambar tersebut tidak mencerminkan dunia nyata.
Dikutip dari Body and Soul, tidak ada patokan angka tertentu untuk ukuran penis. Demikian pula dengan bentuk dan warnanya, karena tidak ada yang tampak sama. Bahkan terkadang ada nuansa warna pada batang dan kepala penis. Selain itu ujung penis dan uretra yang dimiliki masing-masing pria pun bervariasi.
Beberapa penis dapat memiliki pembuluh darah menonjol, sementara yang lain tidak sama sekali. Ada penis yang disunat dan yang tidak disunat, sehingga terkait hal ini, bentuk penis sudah pasti berbeda. Semua ini menunjukkan bahwa setiap penis berbeda.
Terkait panjang penis, menurut studi pada 1.661 orang yang dipublikasikan dalam Journal of Sexual Medicine pada 2013, rata-rata penis yang ereksi berukuran 14 cm. Akan tetapi, sangat jelas ada keberagaman, di mana ditemukan pula pria yang memiliki panjang ereksi antara 4 cm hingga 26 cm.
Menurut seksolog dr Andri Wanananda MS, penis tidak berlapiskan otot sebagaimana pangkal lengan atau paha yang bisa dilatih untuk dibesarkan di pusat kebugaran. Selain itu yang paling penting sebenarnya bukan besar atau kecilnya penis, melainkan keras dan tegangnya saat mengalami rangsangan seksual.
Apalagi panjang vagina rata-rata adalah 4 inchi dan saraf-saraf yang menimbulkan rasa menyenangkan terletak di sepertiga luar vagina. Ujung saraf terbanyak, yakni sebanyak 8.000, tidak berada di dalam vagina melainkan di klitoris. Selain itu beberapa perempuan melaporkan penis yang terlalu besar kadang menimbulkan rasa tidak nyaman, bahkan menimbulkan rasa sakit.
Selain ukuran, hal yang dikeluhkan beberapa pria adalah penisnya yang tidak lurus alias bengkok. Jika bengkoknya sangat kentara hingga menyerupai pisang atau gagang payung, biasanya dipicu oleh peyronie's disease. Hingga batas tertentu gangguan ini tidak berbahaya, tetapi kalau sudah ekstrem bisa memicu rasa nyeri yang sangat mengganggu.
Penyebab paling umum penis bengkok adalah bekas luka yang membentuk jaringan keras di salah satu sisi dan menghambat pertumbuhan di sisi tersebut. Operasi sering jadi pilihan untuk mengatasinya, namun belakangan bisa juga diatasi dengan menyuntikkan senyawa tertentu.
Gangguan Hasrat Seks Pria Dipengaruhi Hormon Produsen ASI
Kalau pria bermasalah di atas ranjang, biasanya itu karena stres atau
rendahnya kadar testosterone dalam tubuhnya. Namun sebuah studi baru
mengatakan masalah seksual pada pria bisa jadi karena tubuhnya
kekurangan hormon produsen ASI. Kok bisa?
Fakta ini tentu mengejutkan karena selama ini yang diketahui banyak orang adalah hormon bernama prolaktin ini identik dengan wanita, karena berfungsi merangsang pertumbuhan payudara dan produksi ASI pada wanita. Akan tetapi dalam studi ini malah ditemukan bahwa hormon ini ternyata juga mempengaruhi fungsi seksual pria secara signifikan.
Hal ini dibuktikan peneliti dengan mengukur kadar testosterone dan prolaktin, kadar kolesterol dan gula darah serta indeks massa tubuh (BMI) 3.000 pria Eropa berusia 40-79 tahun. Partisipan juga diminta mengisi kuesioner tentang kondisi kesehatan, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol dan fungsi seksualnya.
Seperti dilansir NBC News, dari situ diketahui bahwa rendahnya kadar prolaktin ternyata ada hubungannya dengan sejumlah gejala gangguan kesehatan seksual, begitu juga dengan kesehatan psikologisnya. Bahkan pria yang kadar prolaktinnya berada di bawah rata-rata, meskipun masih dalam batasan normal, lebih cenderung melaporkan jika fungsi seksual makin lama makin memburuk, terutama berkaitan dengan kepuasan orgasme mereka.
Kata peneliti, pria-pria ini juga lebih banyak memperlihatkan gejala depresi ketimbang pria yang kadar prolaktinnya tak begitu rendah. Studi yang sama juga menemukan bahwa rendahnya prolaktin dapat dikaitkan dengan indeks massa tubuh (BMI) dan kadar gula yang tinggi serta rendahnya tingkat aktivitas fisik.
Yang tak banyak diketahui orang, ternyata prolaktin tak hanya dihasilkan oleh wanita, tapi juga para pria, kendati hingga kini fungsi hormon ini sendiri belum jelas. Lagipula peneliti mengaku tak tahu-menahu bagaimana prolaktin dapat meningkatkan fungsi seksual seorang pria.
Bisa jadi rendahnya kadar prolaktin menyebabkan perubahan kadar senyawa-senyawa kimia yang bertugas mengirim sinyal di dalam otak untuk mengatur perilaku seksual seseorang. Peneliti juga tak menutup kemungkinan kondisi kesehatan yang buruk berada di balik rendahnya kadar prolaktin dalam tubuh, termasuk rendahnya gairah seks.
Fakta ini tentu mengejutkan karena selama ini yang diketahui banyak orang adalah hormon bernama prolaktin ini identik dengan wanita, karena berfungsi merangsang pertumbuhan payudara dan produksi ASI pada wanita. Akan tetapi dalam studi ini malah ditemukan bahwa hormon ini ternyata juga mempengaruhi fungsi seksual pria secara signifikan.
Hal ini dibuktikan peneliti dengan mengukur kadar testosterone dan prolaktin, kadar kolesterol dan gula darah serta indeks massa tubuh (BMI) 3.000 pria Eropa berusia 40-79 tahun. Partisipan juga diminta mengisi kuesioner tentang kondisi kesehatan, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol dan fungsi seksualnya.
Seperti dilansir NBC News, dari situ diketahui bahwa rendahnya kadar prolaktin ternyata ada hubungannya dengan sejumlah gejala gangguan kesehatan seksual, begitu juga dengan kesehatan psikologisnya. Bahkan pria yang kadar prolaktinnya berada di bawah rata-rata, meskipun masih dalam batasan normal, lebih cenderung melaporkan jika fungsi seksual makin lama makin memburuk, terutama berkaitan dengan kepuasan orgasme mereka.
Kata peneliti, pria-pria ini juga lebih banyak memperlihatkan gejala depresi ketimbang pria yang kadar prolaktinnya tak begitu rendah. Studi yang sama juga menemukan bahwa rendahnya prolaktin dapat dikaitkan dengan indeks massa tubuh (BMI) dan kadar gula yang tinggi serta rendahnya tingkat aktivitas fisik.
Yang tak banyak diketahui orang, ternyata prolaktin tak hanya dihasilkan oleh wanita, tapi juga para pria, kendati hingga kini fungsi hormon ini sendiri belum jelas. Lagipula peneliti mengaku tak tahu-menahu bagaimana prolaktin dapat meningkatkan fungsi seksual seorang pria.
Bisa jadi rendahnya kadar prolaktin menyebabkan perubahan kadar senyawa-senyawa kimia yang bertugas mengirim sinyal di dalam otak untuk mengatur perilaku seksual seseorang. Peneliti juga tak menutup kemungkinan kondisi kesehatan yang buruk berada di balik rendahnya kadar prolaktin dalam tubuh, termasuk rendahnya gairah seks.
Selasa, 13 Agustus 2013
Cara Orgasme Berkali-kali!
Jangankan multiorgasme, bisa mencapai orgasme saja sudah untung, begitu mungkin kata sebagian perempuan. Maklum saja, banyak perempuan yang belum mampu mencapai orgasme lantaran belum cukup mengeksplorasi dirinya, atau karena pasangannya hanya mementingkan kepuasan dirinya.
Namun, ada jalan untuk mencapai klimaks, bahkan mendapatkannya berkali-kali. Kuncinya adalah, tidak malu untuk mengakui bahwa kita pun ingin merasakan sensasi kenikmatan tersebut, dan lebih berani mengeksplorasi diri. Berikut beberapa caranya:
Masturbasi. Inilah hal pertama yang bisa Anda lakukan untuk mencapai orgasme. Dengan masturbasi, Anda bisa mengenali bagaimana dan di mana sentuhan yang Anda inginkan, sekaligus yang tidak Anda sukai. Jika Anda memahami kebutuhan Anda sendiri, tentunya Anda bisa mengarahkan suami untuk menyentuh Anda di titik-titik paling sensitif dari tubuh Anda.
Latih otot vagina. Untuk melakukan sesi bercinta yang baik, Anda perlu memastikan bahwa otot dasar panggul dan otot-otot vagina Anda kuat. Otot vagina yang sehat akan mampu mengalirkan darah ke area yang memungkinkan Anda mengalami sensasi kenikmatan yang lebih dalam. Otot-otot ini berada di sekitar uretra, vagina, dan anus. Untuk melatihnya, lakukan senam Kegel di mana kita harus mengencangkan dan mengendurkan otot-otot tersebut, seperti saat Anda menahan pipis, dalam hitungan tertentu. Simak caranya di sini.
Tingkatkan foreplay. Foreplay boleh dibilang memegang peran paling penting untuk mencapai orgasme berulang kali. Kebanyakan perempuan hanya dapat mencapai klimaks melalui rangsangan klitoral secara langsung, jadi ajak pasangan untuk memusatkan perhatian ke area ini. Ia bisa menggunakan jemari ataupun lidahnya. Untuk melatih tubuh menerima sensasi puncak berkali-kali, biarkan pasangan menstimulasi Anda selama beberapa menit, kemudian berhenti sebentar, lalu mulai lagi. Dengan demikian, tubuh Anda akan tahu setelah satu stimulasi mencapai puncak, klimaks berikutnya akan datang lagi.
Alihkan ke area lain. Ketika mengalami orgasme melalui stimulasi klitoral, biasanya Anda akan merasakan sensasi geli yang luar biasa. Kalau sudah begini, Anda mungkin akan langsung menarik diri dari rangsangan si dia karena kulit Anda terlalu sensitif dengan sentuhannya. Namun, bila Anda masih menginginkan orgasme yang kedua (dan seterusnya), coba alihkan sentuhan pasangan ke area tubuh Anda yang lain yang tidak begitu sensitif. Di mana area tersebut? Anda yang lebih tahu. Entah itu payudara, bibir, atau leher Anda. Dengan menjaga saraf-saraf dan energi sensual Anda tetap tinggi, Anda tidak perlu mulai dari awal lagi untuk merasakan stimulasi dari si dia.
G-spot. Ketika klitoris sudah menjadi supersensitif melalui foreplay, Anda bisa beranjak ke area yang lebih dalam, yaitu G-spot. G-spot sebenarnya sangat sensitif, tetapi karena letaknya yang tersembunyi dan lebih sulit ditemukan, ia membutuhkan lebih banyak eksplorasi dan stimulasi. Jika Anda sulit menemukannya, coba lakukan posisi reverse cowgirl, atau posisi di mana Anda berada di atas tetapi membelakangi pasangan. Posisi ini secara alami akan menyentuh G-spot Anda, sekaligus menstimulasi klitoris melalui tubuhnya. Jangan lupa ajak si dia untuk terus menyentuh Anda.
Tak usah terburu-buru saat melakukan sesi ini, apalagi dengan memancang target untuk meraih multiorgasme. Lakukan dengan santai, perlahan, sambil menikmatinya semaksimal mungkin. Tak perlu mendesak si dia untuk membiarkan Anda orgasme lebih dulu. Hal ini hanya akan membuatnya tertekan dan lebih sulit untuk terangsang ataupun merangsang diri Anda.
Hanya 30 Persen Perempuan Alami Orgasme
Orgasme merupakan salah satu hal yang paling ingin dicapai saat bercinta.
Namun, sayangnya masih banyak perempuan yang belum mampu mencapai orgasme saat
bercinta dengan pasangannya, termasuk di Indonesia.
"Dari banyak penelitian, ditemukan fakta bahwa saat bercinta hanya para pria saja yang sering mencapai orgasme," tukas Firliana Purwanti, Program Officer Hak Asasi Manusia & Demokratisasi di Hivos Asia Tenggara sekaligus penulis The 'O' Project dalam acara Young Caring Profesional Awards di Jakarta beberapa waktu lalu.
Diakui Firliana melalui penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat, sekitar perempuan yang menikmati saat-saat bercinta dan mencapai orgasme hanya berkisar 30 persen saja, sedangkan pria yang bisa mencapai orgasme berkisar 70 persen. Angka ini termasuk cukup mengejutkan karena sebenarnya dalam bercinta seharusnya bisa dinikmati oleh kedua belah pihak sehingga mereka bisa sama-sama mencapai orgasme.
Firliana mencoba membuktikan penelitian di Amerika Serikat terhadap masyarakat Indonesia. Ia pun melakukan survei terhadap 16 orang perempuan di Indonesia tentang kepuasan orgasme saat bercinta, bertajuk The 'O' Project.
Survei ini dilakukan dengan metode wawancara terhadap perempuan di Aceh, Jakarta, Surabaya,Makassar dan beberapa kota lainnya dari berbagai status sosial dan pekerjaannya. Melibatkan perempuan lajang, sudah menikah, punya anak, lesbi, transgender, pekerja seks komersil, mengidap HIV, dan juga perempuan yang pernah disunat.
Dari penelitian yang dilakukannya, ia mengungkapkan bahwa para perempuan Indonesia juga mengalami kecenderungan yang sama. Artinya, hanya 30 persen perempuan Indonesia yang mengalami orgasme. Ia mengungkapkan bahwa rendahnya persentase perempuan yang bisa mencapai orgasme dalam kehidupan percintaannya ini banyak disebabkan oleh pola pikir yang salah.
"Banyak perempuan Indonesia yang mengalami the cinderella syndrome, yaitu sebuah kondisi dimana mereka diajarkan untuk selalu menunggu dan bersabar sembari menunggu seorang pangeran datang menjemput," tukasnya.
Tokoh Cindrella ini lekat dengan image perempuan baik-baik yang pada akhirnya akan menemukan seorang pangeran tampan sebagai pasangannya. Yang terjadi kemudian, perempuan cenderung pasrah dan pasif menunggu. Dianggap sebagai perempuan baik-baik, menjadi sebuah prestasi tersendiri. Lain halnya dengan pria yang tumbuh sebagai pribadi dengan wawasan lebih luas dan bebas mengekspresikan dirinya, karena pria cenderung dibolehkan untuk menjalani apa saja dalam hidupnya.
Menurut Firli, hal inilah yang menyebabkan adanya pola pikir yang salah dalam kehidupan seksual seorang perempuan. Adanya anggapan bahwa perempuan harus selalu pasif dan hanya laki-laki yang boleh aktif akan membuat perempuan kurang merasakan kepuasan dalam kehidupan seksualnya.
Sedikitnya jumlah perempuan yang menikmati orgasme juga disebabkan sikap perempuan yang selalu mendahulukan kesenangan seksual pasangan daripada dirinya sendiri. Kesulitan untuk mengekspresikan keinginan dan kebutuhan seksualitasnya juga menghambat perempuan Indonesia untuk menikmati aktivitas seksual bersama pasangan sehingga ia lebih sulit orgasme dibandingkan pria.
"Dari banyak penelitian, ditemukan fakta bahwa saat bercinta hanya para pria saja yang sering mencapai orgasme," tukas Firliana Purwanti, Program Officer Hak Asasi Manusia & Demokratisasi di Hivos Asia Tenggara sekaligus penulis The 'O' Project dalam acara Young Caring Profesional Awards di Jakarta beberapa waktu lalu.
Diakui Firliana melalui penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat, sekitar perempuan yang menikmati saat-saat bercinta dan mencapai orgasme hanya berkisar 30 persen saja, sedangkan pria yang bisa mencapai orgasme berkisar 70 persen. Angka ini termasuk cukup mengejutkan karena sebenarnya dalam bercinta seharusnya bisa dinikmati oleh kedua belah pihak sehingga mereka bisa sama-sama mencapai orgasme.
Firliana mencoba membuktikan penelitian di Amerika Serikat terhadap masyarakat Indonesia. Ia pun melakukan survei terhadap 16 orang perempuan di Indonesia tentang kepuasan orgasme saat bercinta, bertajuk The 'O' Project.
Survei ini dilakukan dengan metode wawancara terhadap perempuan di Aceh, Jakarta, Surabaya,Makassar dan beberapa kota lainnya dari berbagai status sosial dan pekerjaannya. Melibatkan perempuan lajang, sudah menikah, punya anak, lesbi, transgender, pekerja seks komersil, mengidap HIV, dan juga perempuan yang pernah disunat.
Dari penelitian yang dilakukannya, ia mengungkapkan bahwa para perempuan Indonesia juga mengalami kecenderungan yang sama. Artinya, hanya 30 persen perempuan Indonesia yang mengalami orgasme. Ia mengungkapkan bahwa rendahnya persentase perempuan yang bisa mencapai orgasme dalam kehidupan percintaannya ini banyak disebabkan oleh pola pikir yang salah.
"Banyak perempuan Indonesia yang mengalami the cinderella syndrome, yaitu sebuah kondisi dimana mereka diajarkan untuk selalu menunggu dan bersabar sembari menunggu seorang pangeran datang menjemput," tukasnya.
Tokoh Cindrella ini lekat dengan image perempuan baik-baik yang pada akhirnya akan menemukan seorang pangeran tampan sebagai pasangannya. Yang terjadi kemudian, perempuan cenderung pasrah dan pasif menunggu. Dianggap sebagai perempuan baik-baik, menjadi sebuah prestasi tersendiri. Lain halnya dengan pria yang tumbuh sebagai pribadi dengan wawasan lebih luas dan bebas mengekspresikan dirinya, karena pria cenderung dibolehkan untuk menjalani apa saja dalam hidupnya.
Menurut Firli, hal inilah yang menyebabkan adanya pola pikir yang salah dalam kehidupan seksual seorang perempuan. Adanya anggapan bahwa perempuan harus selalu pasif dan hanya laki-laki yang boleh aktif akan membuat perempuan kurang merasakan kepuasan dalam kehidupan seksualnya.
Sedikitnya jumlah perempuan yang menikmati orgasme juga disebabkan sikap perempuan yang selalu mendahulukan kesenangan seksual pasangan daripada dirinya sendiri. Kesulitan untuk mengekspresikan keinginan dan kebutuhan seksualitasnya juga menghambat perempuan Indonesia untuk menikmati aktivitas seksual bersama pasangan sehingga ia lebih sulit orgasme dibandingkan pria.
Untuk Orgasme, Ukuran Mr P Masih Dianggap Penting
Berbeda dengan pria, wanita umumnya lebih sulit mencapai
orgasme. Beberapa wanita baru bisa merasakan orgasme jika mendapatkan
perangsangan yang cukup dari penis pasangannya.
Meski ukuran penis yang besar bukan jaminan seorang wanita lebih mudah mencapai puncak kenikmatan, sebagian wanita merasa mereka lebih mudah mencapai orgasme vagina jika Mr P pasangannya cukup besar.
Seperti diketahui, terdapat dua jenis orgasme pada wanita, yaitu orgasme klitoral dan vaginal. Orgasme klitoral dicapai melalui perangsangan pada organ klitoris, sementara orgasme vaginal didapat melalui rangsangan pada vagina. Beberapa ahli menyebut orgasme jenis ini sebagai orgasme G-spot.
Dalam sebuah penelitian diketahui 33 persen wanita, terutama yang lebih suka orgasme vaginal, mengatakan bahwa ukuran Mr P pasangan adalah hal yang penting. Akan tetapi, jangan berkecil hati jika ukuran "yunior" Anda tergolong imut karena sekitar 60 persen wanita tak peduli dengan ukuran tersebut. Biar kecil yang penting garang.
Barry Kamisaruk, peneliti respons seksual wanita dari Rutgers University, menyebutkan bahwa sebenarnya masih ada perdebatan di antara para ahli mengenai orgasme klitoris dan vaginal.
Menurut Kamisaruk, saraf-saraf yang membawa sinyal rangsangan di area klitoris dan vagina berbeda. "Itu berarti perangsangan di setiap organ tersebut akan mengaktifkan area otak yang juga berbeda," katanya.
Pendapat lain mengatakan bahwa stimulasi pada vagina sebenarnya mengaktifkan bagian yang lebih dalam di area klitoris. Jadi, kedua jenis orgasme itu pada dasarnya sama.
Kaum wanita sendiri mengatakan bahwa mereka merasakan sensasi yang berbeda dari orgasme klitoris atau vagina. Namun, mengenai mana yang lebih disukai, itu kembali pada pilihan tiap individu.
Yang pasti dibutuhkan adalah waktu dan kesabaran untuk mengetahui area mana yang paling mudah dirangsang. Terlebih lagi, bagi sebagian wanita, orgasme adalah sebuah penantian yang berharga.
Demikian pula halnya untuk mencapai orgasme ganda, sebagian mengatakan tidak diperlukan ukuran penis yang besar untuk membantu wanita mencapainya. Yang utama adalah pria harus tetap memberikan perangsangan terus-menerus hingga sejumlah orgasme yang diinginkan tercapai.
Meski ukuran penis yang besar bukan jaminan seorang wanita lebih mudah mencapai puncak kenikmatan, sebagian wanita merasa mereka lebih mudah mencapai orgasme vagina jika Mr P pasangannya cukup besar.
Seperti diketahui, terdapat dua jenis orgasme pada wanita, yaitu orgasme klitoral dan vaginal. Orgasme klitoral dicapai melalui perangsangan pada organ klitoris, sementara orgasme vaginal didapat melalui rangsangan pada vagina. Beberapa ahli menyebut orgasme jenis ini sebagai orgasme G-spot.
Dalam sebuah penelitian diketahui 33 persen wanita, terutama yang lebih suka orgasme vaginal, mengatakan bahwa ukuran Mr P pasangan adalah hal yang penting. Akan tetapi, jangan berkecil hati jika ukuran "yunior" Anda tergolong imut karena sekitar 60 persen wanita tak peduli dengan ukuran tersebut. Biar kecil yang penting garang.
Barry Kamisaruk, peneliti respons seksual wanita dari Rutgers University, menyebutkan bahwa sebenarnya masih ada perdebatan di antara para ahli mengenai orgasme klitoris dan vaginal.
Menurut Kamisaruk, saraf-saraf yang membawa sinyal rangsangan di area klitoris dan vagina berbeda. "Itu berarti perangsangan di setiap organ tersebut akan mengaktifkan area otak yang juga berbeda," katanya.
Pendapat lain mengatakan bahwa stimulasi pada vagina sebenarnya mengaktifkan bagian yang lebih dalam di area klitoris. Jadi, kedua jenis orgasme itu pada dasarnya sama.
Kaum wanita sendiri mengatakan bahwa mereka merasakan sensasi yang berbeda dari orgasme klitoris atau vagina. Namun, mengenai mana yang lebih disukai, itu kembali pada pilihan tiap individu.
Yang pasti dibutuhkan adalah waktu dan kesabaran untuk mengetahui area mana yang paling mudah dirangsang. Terlebih lagi, bagi sebagian wanita, orgasme adalah sebuah penantian yang berharga.
Demikian pula halnya untuk mencapai orgasme ganda, sebagian mengatakan tidak diperlukan ukuran penis yang besar untuk membantu wanita mencapainya. Yang utama adalah pria harus tetap memberikan perangsangan terus-menerus hingga sejumlah orgasme yang diinginkan tercapai.
Waktu yang Tepat untuk Bercinta
Selain posisi dan teknik dalam bercinta, ternyata pemilihan
waktu juga berperan besar dalam tercapainya puncak kenikmatan alias orgasme.
Jadi, kapan waktu yang paling tepat?
Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam The Journal of Sexual Medicine disebutkan bahwa sekitar 14 hari setelah siklus menstruasi adalah waktu yang paling tepat. Wanita yang bercinta pada periode tersebut cenderung lebih mudah mencapai orgasme.
Pada periode 14 hari pasca-menstruasi, klitoris akan membesar sekitar 20 persen dan lebih peka terhadap rangsangan. Dengan demikian, seorang wanita akan menjadi lebih mudah bergairah.
Sekelompok peneliti dari Italia yang melakukan penelitian itu melibatkan 24 wanita berusia 18-35 tahun. Menggunakan peralatan ultrasound, klitoris para responden diukur, demikian pula pembuluh darah utama yang mengalirkan darah ke klitoris sehingga akan timbul gairah seksual.
Pengukuran lewat ultrasound tersebut dilakukan di awal, tengah, dan akhir siklus menstruasi. Hasilnya, pada hari ke-14 siklus menstruasi, ukuran klitoris lebih besar sampai 20 persen. Selain itu, pembuluh darah juga cenderung membesar sehingga sirkulasi darah ke organ tersebut lebih lancar.
Hari ke-14 adalah sekitar masa ovulasi sehingga terjadi perubahan pada tubuh. Perubahan itu juga dipengaruhi oleh hormon estrogen. Tak heran jika di masa subur tersebut, kebanyakan wanita menjadi lebih bersemangat berhubungan seks dibanding hari-hari lainnya.
Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam The Journal of Sexual Medicine disebutkan bahwa sekitar 14 hari setelah siklus menstruasi adalah waktu yang paling tepat. Wanita yang bercinta pada periode tersebut cenderung lebih mudah mencapai orgasme.
Pada periode 14 hari pasca-menstruasi, klitoris akan membesar sekitar 20 persen dan lebih peka terhadap rangsangan. Dengan demikian, seorang wanita akan menjadi lebih mudah bergairah.
Sekelompok peneliti dari Italia yang melakukan penelitian itu melibatkan 24 wanita berusia 18-35 tahun. Menggunakan peralatan ultrasound, klitoris para responden diukur, demikian pula pembuluh darah utama yang mengalirkan darah ke klitoris sehingga akan timbul gairah seksual.
Pengukuran lewat ultrasound tersebut dilakukan di awal, tengah, dan akhir siklus menstruasi. Hasilnya, pada hari ke-14 siklus menstruasi, ukuran klitoris lebih besar sampai 20 persen. Selain itu, pembuluh darah juga cenderung membesar sehingga sirkulasi darah ke organ tersebut lebih lancar.
Hari ke-14 adalah sekitar masa ovulasi sehingga terjadi perubahan pada tubuh. Perubahan itu juga dipengaruhi oleh hormon estrogen. Tak heran jika di masa subur tersebut, kebanyakan wanita menjadi lebih bersemangat berhubungan seks dibanding hari-hari lainnya.
Langganan:
Postingan (Atom)